RADAR MALIOBORO - Mendengarkan musik adalah kegiatan mengonsumsi seni paling mudah dan murah saat ini.
Berdasarkan survei yang dilakukan Octive pada 2025, Indonesia berada pada posisi ke-6 dalam peringkat industri musik terkuat di Asia.
Tangga lagu teratas musik Indonesia saat ini dipenuhi karya berbagai artis lokal.
Nama-nama besar seperti Sheila on 7, Dewa 19, serta NOAH tampaknya tak pernah cabut dari daftar artis teratas.
Kemudian, muncul nama-nama baru seperti Naykilla, Ajeng Febria, hingga Raim Laode yang lagunya bertahan lama di tangga lagu Indonesia.
Baca Juga: Penyerangan di Times Square New York, Seorang Wanita Tusuk Dua Pejalan Kaki
Bangkitnya musik lokal di tangga lagu Indonesia tentu bukan tanpa alasan. Berikut adalah beberapa alasan musik lokal makin digemari!
Lirik yang relevan (relatable)
Musisi lokal kini lebih berani menggunakan bahasa sehari-hari, dialek daerah, hingga lirik yang sederhana dan apa adanya untuk menggaet pendengar baru.
Pendekatan ini membuat pendengar lebih bisa mengungkapkan isi hati secara gamblang tanpa dibalut metafora-metafora yang kadang sulit diartikan.
Kemudian, fenomena lagu "ambyar" atau lagu-lagu bertema patah hati yang sangat mengena di hati pendengar karena mencerminkan realitas emosional mereka.
Musik seperti ini sangat digemari oleh kalangan muda yang sedang menghadapi masalah percintaan serta pendewasaan.
Lagu-lagu seperti inilah yang didengarkan setiap hari untuk menyampaikan perasaan mereka.
Baca Juga: Persija Pamer Kekuatan Baru di JIS, 29 Pemain Siap Hadapi Musim 2026/2027
Eksplorasi genre dan hibridasi musik
Genre musik lokal kini semakin bervariasi dengan mengombinasikan musik modern dan tradisional.
Musisi-musisi muda berhasil mencetuskan genre hipdut (hiphop dangdut) mematahkan stigma bahwa musik daerah terdengar kampungan.
Contoh konkretnya adalah kolaborasi Tenxi, Naykilla dan Jemsii lewat lagu "Garam dan Madu" dan "Kasih Aba-Aba" yang sempat booming karena terdengar fresh.
Tidak lupa juga dengan gelombang musik Indonesia Timur seperti "Tabola Bale" dan "Stecu-Stecu" yang menawarkan looping beat yang repetitif dan asyik untuk berjoget.
Kombinasi dengan aransemen pop elektronik kontemporer membuatnya digemari oleh berbagai kalangan sampai viral di mancanegara.
Baca Juga: Sempat Tertekan, Rupiah Berbalik Menguat Tembus 17.695 per Dolar AS Hari Ini
Peran algoritma media sosial dan platform streaming
Algoritma memegang peran penting dalam penyebaran lagu-lagu lokal.
Berkat media sosial TikTok, potongan lagu yang unik mempercepat sebuah karya untuk masuk ke FYP (For Your Page) masyarakat.
Hal ini pun menurunkan ketergantungan musisi pada label besar untuk menjadi terkenal.
Sebuah lagu yang sedang viral biasanya akan diputar berkali-kali dan dijadikan musik latar berbagai unggahan.
Selain itu, kemudahan mendengarkan musik lewat aplikasi streaming membuat pendengar baru dengan mudah mengeksplorasi musisi independen tanah air.
Baca Juga: Sempat Tertekan, Rupiah Berbalik Menguat Tembus 17.695 per Dolar AS Hari Ini
Ditambah, tren mengunggah music wrapped yang membuktikan identitas musik pendengar.
Festival musik Indonesia yang beragam
Maraknya panggung festival di Indonesia hampir setiap bulan dengan rangkaian penampil yang berbeda-beda membuat pendengar bisa menyaksikan panggung banyak artis sekaligus.
Mulai dari Pestapora, Cherry Pop, hingga Synchronize Festival sudah tak asing di telinga masyarakat.
Namun, kini konser tak hanya hadir sebagai hiburan, sebab menonton konser telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda.
Baca Juga: Hearts2Hearts hadiri konferensi ADLOMICO ke-33 di Seoul
Konser apa yang ditonton, siapa saja artis yang tampil, dan bagaimana mereka berpakaian untuk menghadiri konser adalah identitas sosial yang selalu dibahas dalam pergaulan.
Jenuh dengan tren musik global
Tren musik global yang semakin seragam juga menjadi alasan mengapa musik lokal kembali digemari.
Saat ini, musik global cenderung seragam dan terdengar mirip.
Bahkan, musik K-Pop yang sempat booming di Indonesia kini semakin kebarat-baratan dan dinilai kehilangan orisinalitasnya.
Di tengah kejenuhan pendengar, musik lokal hadir menawarkan alternatif rasa baru yang lebih segar namun tetap akrab di telinga.
Naiknya popularitas musik lokal membuktikan bahwa Indonesia tak kekurangan musisi berbakat.
Dengan memanfaatkan peluang, karya musisi lokal bisa didengar hingga kancah internasional. (As Syifa Dzihni Nafisa)
Editor : Meitika Candra Lantiva