Tulus menghadirkan sebuah perenungan mendalam lewat lagu "Satu Kali" yang terdapat dalam album Manusia. Karya ini tak sekadar menjadi santapan telinga, tetapi juga mengajak pendengar merenungi betapa cepatnya sang waktu melaju tanpa pernah memberi ruang untuk memutar balik roda kehidupan.
Lirik Lagu Satu Kali-Tulus
Untuk matamu yang basah tak berhenti
Untuk tawa yang datang sesekali
Di titik gelap dan terang yang berganti
Gemuruh angin berbagai penjuru
Ringkihlah asa
Hilanglah harap
Terbuanglah waktu
Kecil hanya sekali
Muda hanya sekali
Tua hanya sekali
Hiduplah kini
Baca Juga: Opening Ceremony P2K 2026 Digelar Hybrid, Rangkaian Orientasi hingga Dahlan Muda Expo
Kecil hanya sekali
Muda hanya sekali
Tua hanya sekali
Hiduplah kini
Merangkak dua langkah kecil pertama
Kini dia lari dan tergesa-gesa
Terenyuh dia buah manis pertama
Kini ilusi pahit mewah rasa
Jutaan ragu
Juta keliru
Puji ilusimu
Kecil hanya sekali
Muda hanya sekali
Tua hanya sekali
Hiduplah kini
Kecil hanya sekali
Muda hanya sekali
Tua hanya sekali
Hiduplah kini
Wajah kecilmu
Kita manusia
Bukan yang maha paling mulia
Kecil hanya satu kali
Muda hanya satu kali
Tua hanya satu kali
Hiduplah
Hiduplah kini
Hiduplah
Hiduplah kini
Hiduplah kini
Dibalut aransemen yang mengalir hangat dan bertahap, lagu ini menyusuri lorong waktu tentang fase-fase yang pasti dilalui setiap insan.
Mulai dari langkah-langkah kecil di masa kanak-kanak, riuh gelora masa muda, hingga kepasrahan di usia senja, semuanya dirangkum dalam sebentuk kesadaran bahwa tiap babak hidup itu sifatnya mutlak.
Baca Juga: Dorong Akselerasi Karir Dosen, Dunia Dosen Luncurkan Kelas Eksklusif Berbasis Praktik
Di tengah pesan mendalam tersebut, Tulus menegaskan inti perenungannya lewat bait lirik yang begitu membekas:
"Kecil hanya satu kali-Muda hanya satu kali-Tua hanya satu kali-Hiduplah kini"
Menariknya, lirik ini menjadi tamparan lembut bagi siapa saja yang kerap terjebak dalam penyesalan masa lalu atau bayang-bayang kecemasan masa depan.
Lagu ini secara implisit mengajak pendengarnya merayakan konsep mindfulness, sebuah imbauan untuk benar-benar merayakan hari ini, merayakan setiap tawa maupun air mata selagi kesempatan itu masih ada di genggaman.
Tak hanya berbicara soal kefanaan waktu, "Satu Kali" juga menyiratkan pesan humanis tentang penerimaan diri. Keraguan, keliru, dan rasa ringkih diakui sebagai bagian utuh dari perjalanan manusia yang memang jauh dari kata sempurna.
Lagu ini tetap relevan hingga kini sebagai pelukan hangat yang mengingatkan kita untuk berhenti tergesa-gesa dan mulai menikmati tiap detik yang sedang dijalani.
Editor : Bahana.