YOGYAKARTA – “Watu Cilik” karya Sri Redjeki menjadi salah satu lagu yang mampu membuat pendengar tersenyum lewat lirik berbahasa Jawa yang jenaka dan penuh permainan kata.
Namun, di balik kelucuan tersebut, lagu ini menyimpan gambaran mengenai kehidupan sosial. Humor menjadi cara Sri Redjeki menyampaikan kegelisahan sekaligus mengomentari berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Watu Cilik diciptakan dan diaransemen Indy bersama Sri Redjeki. Berdasarkan keterangan pada kanal SriRedjekiBand, lagu tersebut pertama kali dibuat pada 2002. Karya itu kemudian direkam dalam album kaset independen, dibagikan secara gratis, serta diputar di sejumlah radio di Jogja.
Lagu tersebut kemudian diproduksi dalam format CD pada 2006 dan kembali diproduksi pada 2010. Sementara itu, katalog Spotify dan Apple Music mencatat Watu Cilik sebagai single yang dirilis pada 2003. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya perbedaan pencatatan antara riwayat produksi yang disampaikan band dan katalog layanan streaming.
Sejak bagian awal, keunikan Watu Cilik sudah terasa. Liriknya bermain-main dengan bunyi dan makna sejumlah benda berukuran kecil. Misalnya, watu cilik yang disebut krikil, kemudian serok cilik menjadi sotil, hingga permainan kata yang mengarah pada kutil.
Baca Juga: Foto, Nongkrong, dan Healing, Tiga Kebiasaan Gen Z Saat Cari Tempat Kekinian
Permainan tersebut kemudian berkembang ke berbagai gambaran tentang hewan, makanan, serta tingkah laku manusia. Rangkaian kata yang terdengar seperti guyonan sehari-hari justru menjadi salah satu kekuatan lagu ini.
Sri Redjeki mampu memanfaatkan keluwesan bahasa Jawa untuk menciptakan humor yang terasa dekat dengan keseharian masyarakat.
Humor Nakal dan Identitas Jogja
Kelucuan dalam Watu Cilik tidak berhenti pada permainan kata. Sejumlah bagian lirik menghadirkan gambaran mengenai laki-laki dan perempuan serta ungkapan yang memiliki nuansa dewasa.
Ada pula penyebutan Sarkem, sebutan populer untuk kawasan Pasar Kembang di Yogyakarta. Nama kawasan tersebut memiliki sejarah dan konotasi sosial yang berkaitan dengan praktik prostitusi. Penyisipannya dalam lirik memberikan warna lokal sekaligus memperkuat karakter humor yang dibangun.
Meski demikian, Watu Cilik akan terasa kurang lengkap jika hanya dipahami sebagai lagu lucu.
Dalam sebuah wawancara dengan KapanLagi, personel Sri Redjeki menjelaskan bahwa karya-karya mereka kerap mengangkat persoalan sosial, percintaan hingga kriminal. Berbagai tema tersebut kemudian disampaikan melalui pendekatan parodi.
Dengan demikian, lirik yang terdengar sederhana, nakal, atau bahkan seperti dibuat asal-asalan sebenarnya memiliki lapisan pesan. Humor digunakan sebagai medium untuk menyampaikan kritik dan kegelisahan terhadap kondisi sosial.
Musik Bebas Genre
Karakter tersebut tidak terlepas dari identitas Sri Redjeki sebagai kelompok musik asal Yogyakarta yang berdiri pada 2002.
Melalui laman Bandcamp resminya, Sri Redjeki menggambarkan musik mereka sebagai karya yang tidak terpaku pada satu genre dan dibuat dengan semangat bersenang-senang. Album awal mereka bahkan menggunakan instrumen akustik hampir secara keseluruhan.
Pengaruh musik yang dibawa pun cukup beragam, mulai dari alternatif, dangdut, etnik, keroncong, rock hingga musik dunia.
Baca Juga: Ketika “Rayap Besi” Menggerogoti Medan, Besi dan Kabel Fasilitas Umum Jadi Incaran
Personel Sri Redjeki juga memiliki latar belakang multidisipliner, termasuk musik, teater, film, dan tata artistik. Perpaduan pengalaman tersebut turut membentuk karakter musik mereka yang eksperimental, humoris, sekaligus tidak mudah dimasukkan ke dalam satu kategori.
Tetap Hidup di Generasi Berbeda
Menariknya, perjalanan Watu Cilik tidak berhenti sebagai karya lama Sri Redjeki.
Lagu tersebut kembali muncul melalui sejumlah versi yang dibawakan penyanyi dari generasi berbeda. Pada 2023, misalnya, Watu Cilik dibawakan Syahiba Saufa bersama Niken Salindry. Eny Sagita juga menghadirkan versinya dalam format dangdut melalui kanal resminya pada 2025.
Munculnya kembali lagu tersebut menunjukkan bahwa humor yang bertumpu pada permainan bahasa Jawa masih memiliki tempat di tengah pendengar.
Watu Cilik bekerja dengan cara sederhana tetapi efektif. Pendengar diajak tertawa melalui permainan kata dan situasi yang nyeleneh, sebelum kemudian menemukan gambaran mengenai perilaku manusia dan realitas sosial di balik kelucuan tersebut.
Di situlah daya tarik lagu ini. Watu Cilik bukan hanya karya jenaka berbahasa Jawa, tetapi juga bagian dari warna musik alternatif Yogyakarta yang mampu menjadikan humor sebagai cara untuk melihat dan mengkritisi kehidupan.
Editor : Bahana.