Sekilas Romantis, Ternyata “Mardua Holong” Bercerita tentang Cinta yang Diduakan 

Rahmawati Wulandari • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 13:41 WIB
sumber: YouTube
sumber: YouTube

Lagu Batak Mardua Holong yang dipopulerkan oleh Omega Trio menceritakan tentang kepedihan akibat pengkhianatan dan cinta yang diduakan.

Di balik nadanya yang kerap dikira romantis, lirik lagu ini menyuarakan luka mendalam dari seseorang yang mendapati pasangannya tidak setia, diibaratkan seperti bunga yang layu di ladang. Bagian akhirnya menyampaikan pesan ketegasan untuk mengakhiri hubungan demi berhenti menjadi korban dari cinta palsu
Sumber : TikTok

Lagu Batak Mardua Holong yang dipopulerkan oleh Omega Trio kembali menjadi salah satu tembang yang banyak dikenal di luar komunitas musik Batak.

Lagu yang mengangkat kisah cinta dan pengkhianatan ini memiliki makna emosional yang kuat, terutama bagi pendengar yang pernah merasakan hubungan yang berakhir karena ketidaksetiaan.

Mardua Holong diciptakan oleh Much Simanjuntak dan dirilis pada 13 November 2013. Lagu tersebut menjadi singel Omega Trio bersama Mario Music di bawah label Wahana Records.

Baca Juga: Kisah Anne, 8 Tahun Berpacaran Berujung Pengkhianatan Tiga Hari Sebelum Pernikahan

Seiring waktu, Mardua Holong banyak dibawakan ulang oleh sejumlah penyanyi dan muncul dalam berbagai platform digital. Popularitasnya semakin meningkat setelah banyak versi cover beredar di media sosial.

Dalam bahasa Batak, “mardua holong” berarti “mendua hati.” Namun, cerita dalam lagu ini tidak sekadar menggambarkan seseorang yang memiliki perasaan kepada dua orang. Liriknya lebih menyoroti luka seseorang yang mengetahui bahwa pasangan yang selama ini dipercaya ternyata tidak setia.

Kisah tersebut tergambar dari sosok yang awalnya percaya bahwa hubungannya dibangun dengan kesetiaan. Namun, harapan itu berubah menjadi kekecewaan setelah mengetahui pasangannya telah mendua. Perasaan tersebut kemudian digambarkan seperti bunga yang layu di ladang, menjadi simbol hati yang rusak akibat pengkhianatan.

Bagian akhir lagu membawa pesan tentang keputusan untuk mengakhiri hubungan. Tokoh dalam lagu memilih berhenti menjadi korban dari cinta yang dianggap palsu. Waktu dan kebersamaan yang telah dilewati pun dipandang sia-sia karena hubungan tersebut tidak lagi 
dilandasi kejujuran.

Daya tarik Mardua Holong tidak hanya terletak pada kisahnya, tetapi juga pada kemampuannya menyampaikan kesedihan melalui bahasa Batak. Nuansa musik dan liriknya membuat pengalaman patah hati terasa dekat, meskipun pendengarnya tidak memahami seluruh bahasa yang digunakan.

Popularitas lagu ini juga terlihat dari banyaknya versi yang dibawakan penyanyi lain. Judika, Punxgoaran, Anggi Marito, hingga Rany Simbolon dan Dorman Manik pernah membawakan lagu tersebut. Salah satu versi cover yang cukup dikenal juga dibawakan oleh Indah Yastami melalui kanal YouTube-nya.

Di platform Spotify, Mardua Holong juga tercatat sebagai salah satu lagu populer Omega Trio. Lagu tersebut menjadi bagian dari album Omega Trio Album Batak MARDUA HOLONG dan memiliki durasi sekitar 4 menit 57 detik.

Baca Juga: Bangkitkan Literasi Lewat Pojok Baca hingga Wujudkan Lingkungan Sehat Melalui Penghijauan Posyandu 

Pada akhirnya, Mardua Holong bukan hanya lagu tentang perselingkuhan. Tembang ini menggambarkan perjalanan emosi seseorang dari rasa percaya, kecurigaan, sakit hati, hingga keputusan untuk melepaskan hubungan yang dianggap sudah tidak memiliki kejujuran.

Kisah tersebut menjadi salah satu alasan Mardua Holong tetap memiliki tempat di tengah pendengar musik Batak dan penikmat lagu bertema patah hati.

Editor : Bahana.
lagu batak mardua holong omega trio