RADAR MALIOBORO - Pemerintah terus mendorong peralihan penggunaan kendaraan listrik dengan berbagai langkah strategis, termasuk pemberian insentif atau subsidi untuk mobil dan motor ramah lingkungan.
Salah satu inisiatif yang sedang dijalankan adalah program subsidi sebesar Rp 7 juta untuk motor listrik, yang diharapkan dapat meningkatkan pangsa pasar kendaraan roda dua bertenaga baterai, meskipun hingga saat ini implementasinya belum sepenuhnya optimal.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Ekosistem Mobilitas Listrik (AEML) Rian Ernest mengungkapkan, insentif atau subsidi motor listrik Rp 7 juta ini bisa berlanjut di era kepemimpinan Presiden Prabowo.
Menurutnya, para pelaku usaha sudah terbiasa dengan sistem reimbursement yang diterapkan, dan jika subsidi tersebut tiba-tiba dihentikan, momentum yang sudah terbentuk akan hilang.
Lebih lanjut, Rian menjelaskan bahwa AEML akan terus menjaga komunikasi yang baik dengan pemerintah, khususnya dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, untuk memastikan keberlanjutan program insentif ini.
Selain itu, Rian juga mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan kebijakan lain, seperti edukasi publik mengenai kendaraan listrik, perluasan zona emisi rendah, serta evaluasi subsidi BBM, khususnya untuk jenis Pertalite.
Rian menekankan bahwa jika sebagian subsidi Pertalite dialihkan ke industri kendaraan listrik, terutama untuk roda dua, hal ini tidak hanya akan membantu mengurangi emisi, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri lokal.
Dalam konteks yang lebih luas, AEML baru saja menggelar AEML Knowledge Exchange Forum (AKEF) 2024, sebuah forum yang bertajuk "Navigating The EV Ecosystem and Financing Innovations In Indonesia."
Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai lembaga pemerintah, industri swasta, akademisi, mitra pengembangan, dan lembaga keuangan.
Penyelenggaraan AKEF 2024 sejalan dengan fakta bahwa penjualan kendaraan listrik di Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan dari tahun 2022 ke 2023, dengan peningkatan sebesar 262 persen untuk motor listrik dan 43 persen untuk mobil listrik.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Rachmat Kaimuddin menyatakan dukungannya terhadap forum diskusi seperti AKEF 2024.
Baca Juga: Makna di Balik Lagu Die With a Smile oleh Lady Gaga dan Bruno Mars
Menurutnya, wadah ini dapat memberikan masukan positif yang penting untuk mencapai target pemerintah dalam mencapai net zero emission pada tahun 2060 atau bahkan lebih awal.
Rachmat juga menjelaskan bahwa hasil dari AKEF 2024 akan menjadi masukan penting bagi Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2024, yang merupakan bagian dari rangkaian acara besar tersebut.
Editor : Winda Atika Ira Puspita