RADAR MALIOBORO - China kini menjadi pemimpin dalam industri kendaraan listrik dunia, bahkan mengalahkan negara-negara besar seperti Jepang dan Jerman.
Kecanggihan teknologi yang diterapkan dalam produk-produk mobil listrik mereka, serta harga yang lebih kompetitif, menjadi faktor kunci kesuksesan tersebut.
Mobil listrik buatan China seperti BYD, Seres, dan Wuling dipasarkan dengan harga jauh lebih terjangkau dibandingkan merek dari negara lain.
Di Indonesia, mobil listrik asal China juga dijual dengan harga yang relatif murah.
Contohnya, Seres E1 B-Type yang dijual dengan harga Rp 189 juta. Meski harganya terjangkau, mobil ini mampu menempuh jarak hingga 180 km dalam satu kali pengisian penuh.
Selain itu, ada juga Wuling Air-EV Lite dengan harga Rp209 juta, serta BYD M6 yang baru saja meluncur di ajang GIIAS 2024 dengan harga mulai dari Rp 379 juta.
Ada beberapa faktor utama yang membuat mobil listrik asal China mampu dijual dengan harga lebih murah dibandingkan kompetitor internasional.
Dilansir dari Marketplace.org, subsidi besar-besaran yang diberikan oleh pemerintah China memainkan peran penting dalam harga jual yang kompetitif.
Pemerintah memberikan subsidi berupa lahan murah, pembiayaan preferensial, serta bahan baku dengan harga di bawah pasaran.
Berdasarkan investigasi Uni Eropa, China juga memberikan keringanan pajak kepada industri kendaraan listrik, meskipun pihak China mengklaim bahwa subsidi ini sah dan sesuai dengan peraturan.
Namun, negara-negara seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada menganggap subsidi tersebut memberikan keuntungan yang tidak adil bagi produsen mobil listrik China.
Selain subsidi, ketatnya persaingan dalam negeri juga mendorong harga kendaraan listrik menjadi lebih rendah.
Baca Juga: Menjelajahi Pantai Karang Tawulan: Surga Tersembunyi di Tasikmalaya yang Eksotis dan Penuh Pesona
Dengan lebih dari 100 merek kendaraan listrik di pasar domestik, persaingan harga memaksa para produsen untuk terus menekan biaya produksi.
Bahkan, hanya lima merek yang menguasai 60 persen pasar di China. Situasi ini diperparah dengan lemahnya permintaan konsumen dalam negeri, sehingga banyak produsen memilih untuk memperluas pasar mereka ke skala global.
Namun, penetrasi pasar global tidak selalu mudah bagi China. Kendaraan listrik asal China dikenakan tarif tinggi di Amerika Serikat dan Kanada, masing-masing sebesar 100 persen.
Uni Eropa juga berencana mengenakan tarif tambahan sebesar 36 persen pada semua mobil listrik buatan China.
Kebijakan ini didorong oleh keyakinan bahwa kendaraan listrik China mendapat keuntungan dari subsidi yang tidak adil.
Selain itu, faktor tenaga kerja murah juga menjadi salah satu alasan di balik harga kompetitif mobil listrik China.
Sebagai perbandingan, pekerja di pabrik BYD di China rata-rata mendapatkan gaji sekitar 990 USD per bulan, jauh lebih rendah dibandingkan pekerja di pabrik mobil Amerika Serikat yang mendapatkan 28 USD per jam.
Pekerja pabrik di China hanya menerima sekitar 3,6 USD per jam, menjadikan biaya tenaga kerja di negara tersebut jauh lebih rendah.
Efisiensi rantai pasokan juga turut mempengaruhi biaya produksi. China memiliki kendali atas rantai pasokan komponen utama, termasuk baterai, yang menjadi salah satu elemen termahal dalam produksi mobil listrik.
Dengan pengendalian ini, produsen mobil listrik di China mampu menurunkan biaya produksi secara signifikan.
Kesimpulannya, meskipun mobil listrik asal China dijual dengan harga yang terjangkau, produk-produk tersebut tetap mengusung teknologi canggih yang menarik perhatian konsumen global.
Faktor-faktor seperti subsidi pemerintah, kompetisi ketat dalam negeri, biaya tenaga kerja murah, dan efisiensi rantai pasokan menjadikan mobil listrik China sebagai pilihan yang kompetitif di pasar internasional.