RADAR MALIOBORO - Pemilik kendaraan bermotor sering kali dilema saat bodi motornya mengalami goresan. Di satu sisi ingin tampilan kembali rapi, di sisi lain tidak ingin keluar biaya besar atau merusak kondisi asli motor. Dua opsi yang paling sering dipilih adalah pelapisan stiker dan cat ulang. Namun, keduanya tidak bisa dipilih sembarangan karena sangat bergantung pada kondisi bodi dan riwayat cat sebelumnya.
Pelapisan stiker umumnya dipilih untuk motor dengan cat asli pabrik yang masih utuh dan hanya mengalami goresan ringan, baret halus, atau warna mulai kusam. Stiker tidak merusak cat bawaan pabrik selama pemasangan dan pelepasan dilakukan dengan benar. Inilah alasan wrapping populer di kalangan pengguna motor harian yang ingin tampilan segar tanpa perubahan permanen.
Dari sisi pengerjaan, pelapisan stiker relatif cepat. Proses pemasangan biasanya selesai dalam 1–2 hari, tergantung kompleksitas bodi dan motif. Soal biaya, wrapping full bodi motor matic berada di kisaran Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta, motor sport Rp1,5–Rp2,5 juta, dan motor besar bisa lebih mahal. Pilihan warna dan tekstur juga sangat beragam, mulai dari doff, glossy, carbon, hingga transparan.
Namun, stiker punya batasan yang sering tidak disadari. Motor yang sudah pernah dicat ulang (repaint) berisiko tinggi jika dipasangi stiker. Cat hasil repaint memiliki karakter daya rekat yang berbeda dengan cat pabrik, sehingga misal nantinya stiker dilepas, cat justru ikut terangkat atau rontok. Karena risiko ini, banyak bengkel wrapping profesional memilih menolak pelapisan stiker dari motor repaint, terutama jika kualitas cat sebelumnya tidak diketahui.
Selain itu, stiker juga kurang ideal untuk goresan dalam, penyok, atau bodi yang permukaannya sudah tidak rata. Stiker tidak bisa menyamarkan kerusakan struktural. Justru lekukan atau sambungan stiker bisa terlihat jelas dan mengganggu estetika.
Di sisi lain, cat ulang menjadi pilihan paling tepat untuk bodi motor dengan kerusakan berat, seperti goresan dalam hingga plastik terlihat, cat mengelupas, atau bekas jatuh. Proses cat ulang memungkinkan perbaikan permukaan terlebih dahulu melalui dempul dan pengamplasan, sehingga hasil akhirnya lebih rata dan menyatu.
Kekurangan cat ulang ada pada waktu dan biaya. Proses pengerjaan bisa memakan waktu 4–7 hari, tergantung metode dan tingkat kerusakan. Biaya cat ulang standar biasanya mulai dari Rp1–2 juta, dan bisa melonjak hingga Rp4 juta atau lebih untuk cat premium, warna khusus, atau finishing tertentu. Selain itu, cat ulang bersifat permanen dan dapat memengaruhi nilai jual motor jika tidak dikerjakan dengan rapi.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin