JOGJA — Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja didorong semakin serius mengembangkan potensi wisata berbasis sungai. Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong dinilai memiliki peluang untuk menjadi destinasi alternatif sekaligus memecah konsentrasi wisatawan yang selama ini masih berpusat di kawasan Malioboro, Tugu, dan Keraton atau Gumaton.
Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja Fajar Kurniawan menyatakan dukungan terhadap langkah Pemkot Jogja yang mulai mengkampanyekan potensi wisata sungai tersebut.
Menurut politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, pengembangan wisata sungai merupakan langkah strategis untuk menghadirkan pilihan destinasi baru bagi wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar bantaran sungai.
Baca Juga: DPRD Kota Jogja Soroti Keamanan Data Pribadi, KTP dan Nomor HP Jadi Sasaran
“Kalau kita bicara pariwisata Kota Jogja, kita punya potensi sungai yang sangat bisa dikembangkan,” ujar Fajar saat diwawancarai, Rabu (9/9).
Sungai Tak Sekadar Jadi Ruang Publik
Fajar mengatakan, pengembangan kawasan wisata sungai juga sejalan dengan penataan permukiman bantaran sungai melalui konsep Munggah Mundur, Madhep Kali.
Penataan tersebut dinilai tidak hanya membuat kawasan bantaran sungai menjadi lebih tertata dan asri. Jika dikelola secara tepat, kawasan tersebut juga dapat dikembangkan menjadi ruang wisata yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Menurut pria yang akrab disapa Awan itu, pengembangan wisata sungai juga dapat berjalan beriringan dengan penguatan 46 kampung wisata yang tersebar di Kota Jogja.
Ia mendorong agar potensi olahraga berbasis air atau sport tourism turut dikembangkan di sepanjang aliran Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong.
Konsep tersebut dinilai dapat memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan sekaligus mengubah cara pandang masyarakat terhadap sungai.
Selama ini, kawasan sungai masih kerap diasosiasikan dengan lingkungan yang kotor, kumuh, hingga lokasi pembuangan limbah. Pengembangan aktivitas olahraga air diharapkan mampu mengubah citra tersebut.
“Kehadiran atraksi olahraga air diharapkan mampu merubah citra sungai menjadi bersih, indah, serta bernilai ekonomis bagi warga sekitar,” tegas Awan.
Kunjungan Wisatawan Belum Capai Target
Menurut Awan, inovasi destinasi wisata menjadi semakin penting karena capaian kunjungan wisatawan ke Kota Jogja hingga triwulan ketiga 2026 belum mencapai target yang ditetapkan.
Sebagai mitra Dinas Pariwisata, Komisi B DPRD Kota Jogja menyatakan siap mengawal kebutuhan pengembangan wisata sungai, baik dari sisi anggaran maupun penyediaan infrastruktur pendukung.
Kebutuhan destinasi alternatif juga dinilai semakin mendesak seiring adanya rencana penerapan pedestrian penuh di kawasan Malioboro. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi pola pergerakan wisatawan sehingga diperlukan pilihan destinasi lain di luar kawasan pusat kota.
Baca Juga: Mengenal Mi Gomak, Kuliner Tradisional Batak yang Kaya Rempah dan Dekat dengan Kehidupan Masyarakat
“Kami berusaha bagaimana daya tarik wisata dan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Jogja bisa terus meningkat,” tegas Awan.
Pengembangan Sungai Butuh Kolaborasi
Agar gagasan tersebut tidak berhenti sebagai konsep, Awan mendorong adanya sinergi lintas sektor dalam pengelolaan sungai.
Ia mengapresiasi langkah Pemkot Jogja yang telah melibatkan Pemkab Sleman, akademisi, serta komunitas dalam pengembangan Sungai Code. Pola kolaborasi tersebut diharapkan dapat diterapkan pula dalam pengembangan Sungai Winongo dan Gajah Wong.
Menurutnya, pengelolaan kawasan sungai tidak dapat hanya mengandalkan satu pihak. Pemerintah, masyarakat, komunitas, akademisi, pelaku usaha, hingga sektor swasta perlu memiliki peran masing-masing.
Dari sisi pembiayaan, Awan juga mendorong agar pengembangan kawasan sungai tidak sepenuhnya bergantung pada alokasi APBD. Sumber pendanaan alternatif seperti program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, keterlibatan UMKM, dan dukungan lembaga swasta perlu dioptimalkan.
“Pengelolaan sungai maupun pengembangan potensi wisata berbasis sungai memang wajib dilakukan secara bersama-sama oleh multi-stakeholder,” tegas Awan.
Editor : Bahana.