Saparan Jatinom merupakan tradisi tahunan yang dimaknai sebagai sarana bersedekah, mencari berkah, dan sebagai simbol kebersamaan. Ritual ini dilaksanakan setiap bulan Sapar dalam kalender Jawa. Puncaknya ditandai dengan pembacaan doa bersama sesaat setelah Salat Jumat di Masjid Besar Jatinom, dan pelemparan atau sebaran apem oleh Bupati Klaten bersama tokoh agama dan masyarakat.
Apem yang disebar kali ini, berjumlah ribuan apem, yang jika dikalkulasi dalam berat mencapai tujuh ton. Jumlah itu lebih banyak dari tahun sebelumnya yang hanya lima ton. Begitu aba-aba dimulai, apem disebar. Kerumunan warga yang sejak pagi sudah bersiap di tanah lapangan bawah menara, langsung berjibaku berebut untuk mendapatkan apem-apem tersebut.
Beragam cara dilakukan oleh warga untuk bisa mendapatkan apem yang diyakini oleh mereka membawa berkah dan keselamatan tersebut. Ada yang menangkap dengan tangan kosong, dengan kain, bahkan ada yang menggunakan jaring atau jala ikan berbagai ukuran, dan dengan payung yang dibalik, demi mendapatkan apem-apem tersebut.
Baca Juga: Selewengkan Dana Kalurahan, Carik dan Danarta Bangunkerto, Turi, Sleman Diberhentikan
"Alhamdulillah saya dapat tujuh apem. Ini bukan soal apemnya, tapi berkah dan silaturahminya. Filosofi rebutannya itu yang membuat kami jauh- jauh ke sini," kata Jarot, warga Semin, Gunungkidul yang datang sejak pagi bersama istrinyanya, Ny Mari. Kali ini menjadi tahun kedua ketertarikannya untuk ikut ngalap berkah Apem Jatinom. Dia mengaku, apem yang didapat adalah apem yang jatuh di depannya. "Sudah tua, saya tidak harus ikut berebut. Dan kebetulan yang saya dapet pas menjatuhi kepala saya. Kemudian jatuhnya apem persis di depan saya," tuturnya. Menurutnya, kalau sudah rezekinya, maka apem itu juga yakin didapatnya.
Hal yang sama dikatakan Putri, warga Giri Manis, Glagah, Jatinom. Pada sebaran apem kali ini, dia dapat dua apem. " Alhamdulillah, saya dapat dua buah. Ini berkah, dan ini kami percayai sebagai keberkahan, dan keselamatan," katanya.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengatakan, Sebar Apem Jatinom adalah warisan budaya yang harus dijaga. Selain sebagai bentuk bersyukur, sedekah, ngalap berkah dan kebersamaan, Saparan Jatinom memiliki banyak dampak baik bagi masyarakat Klaten, terlebih khusus warga Jatinom.
"Pemerintah Kabupaten Klaten akan terus mendukung pelestarian tradisi ini. Sebar apem bukan sekadar ritual, tapi banyak nilai positif lainnya. Juga menggerakkan UMKM dan ekonomi warga sekitar," ujar Mas Bupati—panggilan akrab Bupati Klaten ini.
Nilai positif lain dari Saparan (Sebar Apem) Jatinom, antara lain memiliki nilai sosial dan kebersamaan. Dimana dengan kegiatan ini, terjadi silaturahmi warga dari berbagai daerah, agama, bahkan dari luar Jawa banyak yang datang.
“Rebutan apem jadi momen guyub, tidak ada beda antara yang kaya dan yang miskin,” lanjut mantan Ketua DPRD Klaten masa jabatan 2019—2024 ini.
Juga mengandung nilai gotong-royong warga, di mana dalam Saparan Jatinom ini, dari persiapan masak apem, pengamanan, sampai bersih-bersih, dilakukan bareng-bareng antara panitia, warga, UMKM, dan pemerintahan setempat.
Yang menjadi lebih penting lagi terdapat banyak nilai ekonomi. Bahwa dengan kegiatan ini mampu menggerakkan UMKM. Dimana sebelum dilakukan sebaran apem yang menjadi puncak Saparan, seminggu sebelumnya sudah diadakan pasar rakyat.
Di sana selama lebih dari satu pekan, ada pasar malam yang menghadirkan segala wahana bermain dan permainan.
Juga banyak pedagang makanan, pakaian, klithikan dan lain sebagainya. Tak terkecuali parkir, penginapan, dan penjualan oleh-oleh apem kemasan yang umumnya laku keras. Omset warga sekitar bisa naik berkali lipat saat acara Saparan ini.
"Tradisi Sebar Apem juga menjadi magnet kunjungan wisatawan. Tentu, ini sangat membantu promosi Klaten sebagai Kota Budaya, Kota Seribu Candi, Kota Seribu Mata Air,” ujar Mas Bupati yang mantan Pemenang Duta Wisata Klaten dan pernah aktif di Ikatan Mas Mbak Jateng ini.
Tak hanya itu, juga masih ada nilai nilai lain yang tak kalah penting. Bahwa tradisi Saparan Jatinom juga terkandung edukasi toleransi. Tradisi ini sudah ratusan tahun dan diikuti oleh semua kalangan yang bisa dimaknai hidup rukun dalam perbedaan.
Juga terkandung nilai lingkungan, dimana sebelum gelaran Sebaran Apem tiba, telah didahului dengan kegiatan bersih desa dan membersihkan lingkungan masjid yang dilakukan warga setempat dengan kerja bhakti massal.
“Saparan Jatinom itu bukan cuma "rebutan apem". Tapi jadi ajang menguatkan ekonomi, budaya, sosial, dan spiritual warga Klaten,” tandas putra politikus senior PDIP asal Trucuk, Kadarwati ini.
Baca Juga: Sebanyak 1.600 Peserta Akan Meriahkan Apel dan Aubade Bulan Kemerdekaan di Gunungkidul Agustus 2026
Panitia menyiapkan tujuh ton apem, dimana dari jumlah itu, di antaranya dibuat dua gunungan yang terdiri dari apem besar dan puluhan ribu apem kecil. Petugas gabungan dari TNI, Polri, dan relawan dikerahkan untuk mengamankan jalannya acara agar tetap tertib. Tradisi Sebar Apem Jatinom sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, diyakini sebagai wasiat dari Syekh Jatinom ( Ki Ageng Gribig). Puncak acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan warga Klaten dan Indonesia.
Mas Bupati juga berpesan, agar dalam kehidupan ini, masyarakat meneladani Ki Ageng Gribig. Menurutnya Ki Ageng Gribig adalah ulama besar yang dermawan, bijaksana, sederhana, bersahaja, dan bertanggung jawab. " Dari Sebaran Apem ini, saya mengajak untuk meneladani beliau Ki Ageng Gribig yang adalah ulama besar, penyebar Islam yang bijaksana, dermawan dan sederhana," ajaknya.
Tampak hadir dalam Sebaran Apem Jatinom adalah Menko Perekonomian RI, Airlangga Hartanto. Menurut Airlangga, ia datang bukan hanya sebagai menteri, tapi juga sebagai zuriah atau keturunan Ki Ageng Gribig. " Saya datang kesini sebagai keluarga besar, sebagai zuriah Ki Ageng Gribig. Saya datang rombongan, saya ajak anggota keluarga saya," katanya seraya menegaskan bahwa dirinya mendukung kebijakan Pemkab Klaten yang menjaga tradisi Sebar Apem hingga saat ini.
"Kami sepakat, bahwa dari kegiatan ini memiliki banyak manfaat. Selain keteladanan, juga untuk menumbuhkan perekonomian daerah," tuturnya.
Ketua FKUB Klaten, KH Syamsuddin Asyrofi menyatakan bahwa ritual Sebaran Apem atau tradisi Yaa Qowiyyu di Jatinom ini merupakan momen penting untuk memperkuat sinergi, merawat kerukunan, serta memupuk semangat toleransi dan saling memaafkan antarumat beragama di tengah masyarakat.
"Sebaran Apem Jatinom ini, merupakan tradisi simbol kebersamaan dan warisan luhur peninggalan Ki Ageng Gribig. Wujud nyata akulturasi budaya yang membawa kebahagiaan serta mempererat hubungan sosial.
Sarana memperkuat kedamaian dan kondusivitas wilayah Kabupaten Klaten," katanya saat dicegat di depan Masjid Besar Jatinom sesaat sebelum Sebaran Apem dilaksanakan.
SEJARAH SAPARAN JATINOM
SEJARAH sebaran apem atau tradisi Yaa Qowiyyu itu sendiri bermula pada abad ke-16 hingga ke-17 oleh ulama besar penyebar Islam, Syekh Jatinom atau Ki Ageng Gribig. Tradisi ini berpusat di Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dan dilangsungkan setiap bulan Sapar (Safar) dalam penanggalan Jawa.
Asal-usul dan perkembangan tradisi ini, berawal dari kepulangan Ki Ageng Gribig dari Tanah Suci (Berhaji) yang membawa oleh-oleh berupa tiga buah kue apem untuk dibagikan kepada keluarga dan masyarakat.
Karena jumlah apem tidak cukup untuk dibagikan ke banyak warga yang hadir, maka dibuatlah adonan sebagai materi pembuat apem. Setelah itu, Ki Ageng Gribig berdoa memohon kepada Allah S.W.T sambil membaca zikir "Yaa Qowiyyu". Dengan zikir tersebut, adonan apem yang dibuatnya kemudian bertambah banyak dan cukup untuk dibagikan merata.
Peristiwa tersebut kemudian diabadikan menjadi ritual tahunan berupa pembagian atau sedekah apem yang kini menarik ratusan ribu peziarah dan warga dari berbagai daerah. Kata Apem itu sendiri berasal dari kata bahasa Arab "afwan" atau "afuwun" yang berarti ampunan atau maaf, sebagai simbol permohonan ampun kepada Tuhan dan maaf antarmanusia. Sedangkan arti kata Yaa Qowiyyu berasal dari doa "Yaa qowiyyu, yaa aziz, qowina wal muslimin" yang bermakna memohon kekuatan lahir dan batin kepada Allah SWT.
Puncak acara (Saparan) dilaksanakan tiap hari Jumat pada pertengahan bulan Sapar. Dengan berjalan kaki, yang dimeriahkan dengan marching band, kesenian reog dan atraksi budaya lainnya, warga mengarak gunungan apem lanang (Pria) dan wadon (Wanita) dari Halaman Kantor Kecamatan Jatinom menuju kompleks Masjid Besar Jatinom dan Makam Ki Ageng Gribig. Setelah didoakan sesaat setelah Salat Jumat, apem-epem yang jumlahnya ribuan disebar dari atas menara untuk diperebutkan masyarakat sebagai simbol keberkahan.
Apem itu sendiri merupakan penganan khas Jawa. Bahan utama membuat apem khas Jatinom meliputi tepung beras, tepung terigu, dan gula pasir. Seiring perkembangan zaman, apem ini menjadi produk UMKM yang memiliki nilai ekonomis, sebagai oleh oleh khas Jatinom seperti halnya bakpia untuk di Yogyakarta. Saat ini oleh warga masyarakat Jatinom, apem diproduksi dengan berbagai varian rasa dan dijual bebas di wilayah Jatinom. (jko)
Editor : Bahana.