KULON PROGO - Kabupaten Kulon Progo tengah diguncang kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat memastikan data terdampak sudah mencapai 176 siswa dan dua tenaga pendidik di Kapanewon Nanggulan. Angka tersebut bukan sekadar laporan sepihak, melainkan hasil penelusuran resmi melalui kuesioner yang disebarkan kepada 549 penerima manfaat.
Laporan pertama masuk ke Dinkes pada Selasa (4/8). Begitu informasi diterima, tim langsung diterjunkan ke lapangan. Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih, menjelaskan bahwa penelusuran dilakukan ke satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) sekaligus ke para penerima MBG. Dari situ, dugaan mengarah kuat ke menu yang disajikan, khususnya lauk ayam panggang.
“Jumlah terdampak ada 176 siswa dan dua tenaga pendidik,” kata Susi, Kamis (6/8/2026).
Meski data korban sudah terkumpul, Dinkes menghadapi kendala besar dalam pengambilan sampel makanan. Sampel yang dibutuhkan untuk uji laboratorium justru tidak lengkap. Padahal, hasil laboratorium sangat penting untuk memastikan penyebab pasti keracunan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kulon Progo, Clara Dyah Rintaka, memaparkan kronologi kejadian secara rinci. Semuanya bermula di SMK Negeri 1 Nanggulan. Pada Senin (3/8) sekitar pukul 10.45 WIB, makanan MBG tiba di sekolah. Menu hari itu terdiri dari nasi putih, ayam panggang, sayur jagung gambas, tempe goreng, dan belimbing. Para siswa mulai menyantap makanan sekitar pukul 11.30 WIB.
Gejala keracunan baru terasa mencolok keesokan harinya. Banyak siswa absen tidak masuk sekolah. Di antara yang masih hadir, sekitar 70 siswa menunjukkan gejala keracunan. Belasan di antaranya harus menjalani rawat jalan di Puskesmas Nanggulan. Kondisi ini memicu Dinkes untuk menelusuri sumber masalah hingga ke dapur SPPG.
Hasil survei lapangan di SPPG mengungkap pola memasak yang dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung dini hari, sekitar pukul 01.00 hingga 04.00 WIB, untuk menyiapkan makanan bagi sasaran Posyandu, PAUD, TK, dan SD. Tahap kedua dimulai pukul 05.00 hingga 08.00 WIB, khusus untuk jenjang SMP dan SMA.
Baca Juga: RSA UGM Buka Suara: Perawat yang Cibir Pasien BPJS di Medsos Sudah Diinvestigasi Tim Etik
Dugaan awal Dinkes mengarah pada kemungkinan tertukarnya makanan antar kloter. Ayam panggang dari batch pertama diduga tercampur atau tertukar dengan batch kedua, sehingga makanan sudah melewati batas waktu aman konsumsi. Namun, ketika tim Dinkes berusaha mengambil sampel dari food bank SPPG, mereka hanya mendapatkan makanan dari kloter pertama. Sampel kloter kedua tidak ditemukan. Lebih parah lagi, lauk ayam panggang yang menjadi tersangka utama juga tidak ada.
Pihak SPPG beralasan kekurangan stok makanan. Akibatnya, pengujian laboratorium tetap dijalankan tanpa sampel lauk yang valid sesuai menu yang dikonsumsi siswa. Situasi ini tentu memperlambat upaya penegasan penyebab keracunan.
Hingga kini, Dinkes terus mendampingi siswa yang terdampak sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Kasus ini menjadi pengingat bahwa program MBG, yang bertujuan baik untuk meningkatkan gizi anak sekolah, tetap membutuhkan pengawasan ketat mulai dari proses produksi hingga distribusi. Orang tua dan pihak sekolah kini menunggu kepastian agar kejadian serupa tidak terulang. (gas)
Editor : Iwa Ikhwanudin