25 Siswa SD di Prambanan Sleman Alami Gejala Keracunan, Dinkes Kirim Sampel MBG ke Lab

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 00:15 WIB
Ilustrasi MBG. (Foto: Radar Jember)
Ilustrasi MBG. (Foto: Radar Jember)

 SLEMAN - Kasus dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Sleman. Kali ini menimpa puluhan siswa sekolah dasar di Kapanewon Prambanan. Peristiwa itu berlangsung pada Selasa (4/8), dan hingga kini pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pastinya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Khamidah Yuliati, menjelaskan bahwa sebanyak 25 siswa mengalami gejala. Tiga di antaranya sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Sampel makanan yang disajikan sudah dikirim ke laboratorium untuk dicek secara menyeluruh.

“Sampel makanan sesuai dengan menu yang disajikan,” kata Khamidah saat dihubungi, Kamis (6/8/2026).

Menu yang dikonsumsi siswa pada Senin (3/8) terdiri dari nasi, ayam goreng mentega, kacang panjang rebus, orek tempe, dan anggur. Sementara pada Selasa (4/8), menu yang disajikan adalah ikan filet tiram, tahu bumbu kuning, buncis jagung ditumis, serta semangka iris. Tim masih melakukan pelacakan untuk menentukan menu mana yang berpotensi menjadi penyebab.

Baca Juga: Warga Desa Wonogiri Magelang Segel Kantor Desa dan Desak Kejari Magelang Usut Kades Junarsih

Menurut Khamidah, gejala keracunan biasanya tidak muncul seketika. Paling cepat, gejala baru terasa sekitar lima jam setelah mengonsumsi makanan. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa kasus baru terdeteksi sehari setelahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, menambahkan bahwa gejala yang muncul pada siswa meliputi sakit perut, diare, dan muntah. Para siswa sudah mendapatkan penanganan awal. Tindak lanjut dilakukan melalui penyelidikan epidemiologi untuk menelusuri sumber masalah secara lebih mendalam.

“Soal MBG itu kami belum bisa memastikan terduganya karena masih harus butuh pemeriksaan di laboratorium,” ujar Cahya.

Saat ini, Dinkes terus memantau kondisi siswa. Termasuk memastikan apakah mereka sudah kembali bersekolah atau masih ada yang menjalani perawatan di rumah sakit. Cahya menegaskan bahwa evaluasi terus digelar, termasuk oleh Satgas MBG di tingkat kabupaten, agar kejadian serupa tidak terulang.

Baca Juga: Bupati Gunungkidul Desak Jalan Tol Tak Berhenti di Bokoharjo, Ingin Langsung Masuk ke Wilayahnya

Panewu Prambanan, Purwati, membenarkan adanya sejumlah siswa yang mengeluh mual dan muntah. Pihaknya sudah melakukan tindak lanjut untuk penanganan di tingkat kecamatan. Namun, ia menekankan bahwa penyebab pastinya belum bisa dipastikan.

“Apakah penyebabnya menu MBG atau bukan, belum bisa dipastikan karena masih proses dan salah satunya menunggu hasil lab,” kata Purwati.

Kasus di Prambanan ini menambah daftar kejadian serupa yang sempat terjadi di wilayah lain. Bagi orang tua, kejadian ini tentu menimbulkan kekhawatiran. Program MBG yang bertujuan baik untuk meningkatkan gizi anak sekolah justru menjadi sorotan ketika masalah keamanan pangan muncul.

Sementara menunggu hasil laboratorium, Dinkes dan pihak sekolah terus mendampingi siswa yang terdampak. Penanganan medis tetap diberikan, dan monitoring harian dilakukan untuk memastikan kondisi anak-anak stabil. Masyarakat dan orang tua kini menantikan kepastian agar program yang bermanfaat ini bisa berjalan lebih aman ke depan. (del) 

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
keracunan MBG Sleman siswa SD Prambanan keracunan Dinkes Sleman MBG kasus keracunan makanan bergizi gratis menu MBG Prambanan