GUNUNGKIDUL – Persoalan kesehatan di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), masih menyisakan pekerjaan besar. Di tengah upaya memperluas akses pelayanan kesehatan, angka hipertensi dan stunting menjadi dua persoalan yang mendapat perhatian serius pemerintah daerah.
Prevalensi hipertensi di Gunungkidul tercatat mencapai 39,25 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di wilayah DIY.
Pada saat yang sama, persoalan stunting juga belum sepenuhnya terselesaikan. Di Kapanewon Nglipar, prevalensi stunting masih berada di angka sekitar 20 persen.
Data tersebut disampaikan Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih saat meluncurkan Kampanye Penggerakan Masyarakat Peningkatan Perilaku Hidup Sehat 2026. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peresmian Poskesdes Sendowo Kidul di Kalurahan Kedungkeris, Kapanewon Nglipar, Senin (10/8/2026).
Baca Juga: Polres Kulon Progo Gagalkan Ribuan Botol Miras Ilegal, Tegaskan Komitmen Jaga Kamtibmas
Endah menilai persoalan kesehatan tidak seharusnya baru mendapat perhatian ketika seseorang sudah jatuh sakit. Menurut dia, pencegahan harus dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni keluarga dan masyarakat.
Perubahan kebiasaan sehari-hari menjadi salah satu kunci. Begitu pula dengan pemenuhan gizi, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak yang berada dalam masa pertumbuhan.
Untuk menekan stunting, pemerintah mengarahkan intervensi sejak masa kehamilan. Ibu hamil, khususnya mereka yang masuk kategori risiko tinggi, perlu mendapatkan asupan protein, vitamin, dan mineral yang memadai.
“Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tapi juga soal kecerdasan,” ujar Endah.
Karena itu, persoalan stunting tidak bisa dilihat sekadar dari kondisi fisik anak. Dampaknya dapat berkaitan dengan tumbuh kembang dan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemberian paket pangan dengan diet khusus kepada 55 ibu hamil risiko tinggi di Gunungkidul. Bantuan tersebut disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Upaya pemenuhan pangan bergizi juga didorong dari lingkungan rumah. Salah satunya melalui program Taman Gizi yang melibatkan kader Posyandu dan Kelompok Wanita Tani (KWT).
Masyarakat mendapat stimulan berupa bibit ikan lele dalam galon serta bibit berbagai jenis sayuran. Program ini diharapkan membuat pemenuhan makanan bergizi tidak selalu bergantung pada pasokan dari luar rumah.
Baca Juga: Palang KA di Gamping Sleman Patah Dirusak Pengendara Motor, KAI: Jangan Terobos Saat Mulai Menutup
Sementara itu, tingginya kasus hipertensi menjadi pengingat bahwa pola hidup sehat masih perlu diperkuat. Pemerintah mendorong masyarakat lebih memperhatikan pola makan, kebersihan lingkungan, sanitasi, hingga pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Tantangannya masih cukup besar. Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Gunungkidul baru berada di kisaran 33 persen.
Angka tersebut menunjukkan pencegahan berbasis perilaku masih membutuhkan kerja bersama. Bukan hanya pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi juga keluarga, kader kesehatan, serta masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah juga berupaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada warga. Peresmian Poskesdes Sendowo Kidul diharapkan menjadi bagian dari solusi tersebut.
Baca Juga: Kabut Tebal Selimuti Kulon Progo Setiap Pagi, Warga Diminta Waspada Saat Berkendara
Fasilitas kesehatan ini melayani masyarakat Sendowo Kidul dan wilayah sekitarnya. Dengan begitu, warga diharapkan memiliki alternatif akses pelayanan dasar tanpa harus selalu menuju Puskesmas Nglipar 1.
Lurah Kedungkeris Rusdi Martono berharap keberadaan Poskesdes dapat membantu mengurangi kepadatan antrean di Puskesmas Nglipar 1. Lebih dari itu, fasilitas tersebut diharapkan menjadi tempat pelayanan kesehatan dasar yang lebih dekat dan mudah dijangkau masyarakat.
Pada akhirnya, persoalan hipertensi dan stunting di Gunungkidul bukan hanya tentang angka statistik. Di balik data tersebut ada keluarga yang membutuhkan pendampingan, ibu hamil yang membutuhkan asupan bergizi, serta anak-anak yang membutuhkan kesempatan tumbuh secara optimal.
Karena itu, membangun masyarakat sehat tidak cukup dengan menambah fasilitas kesehatan.
Perubahan harus tumbuh dari rumah, dari kebiasaan sehari-hari, dan dari kesadaran untuk menjaga kesehatan sebelum penyakit datang. (cr1)
Editor : Iwa Ikhwanudin