KULON PROGO — Sebuah ikhtiar besar untuk merajut kemajuan dan kenyamanan warga Kulon Progo kini mulai menemukan muaranya. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo melangkah mantap memaparkan deretan Program Pembangunan Strategis Daerah langsung di hadapan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Aula Adikarto, Senin (10/8). Pertemuan penuh hangat ini menjadi pijakan krusial untuk menyelaraskan impian daerah dengan dukungan anggaran dari pemerintah provinsi.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, mengungkapkan bahwa ruang koordinasi ini dimanfaatkan secara optimal untuk menyatukan visi pembangunan antara kabupaten dan provinsi. Langkah sinergis ini diambil demi memastikan proyek-proyek vital masyarakat bisa terdanai dan terealisasi dengan presisi.
"Ada beberapa yang kami paparkan, salah satunya peningkatan Jalan Dekso-Plono," ujar Agung saat ditemui pada Selasa (11/8).
Jalan Dekso-Plono memegang peran yang sangat krusial bagi urat nadi perekonomian warga. Berada di bawah status jalan provinsi, jalur ini menjadi akses utama menuju keindahan Perbukitan Menoreh yang kini tengah menggeliat sebagai destinasi wisata andalan. Pemkab mengusulkan pelebaran ruas jalan serta penataan tanjakan-tanjakan curam yang kerap menyulitkan para pengguna jalan. Gayung pun bersambut, Pemprov DIY memberi sinyal hijau dan memproyeksikan pengerjaan ruas Jalan Dekso-Gerbosari dapat dimulai pada tahun anggaran 2027.
Baca Juga: Jeritan Peternak Kulon Progo: Harga Telur Anjlok Bebas, Dihantam Banjir Pasokan dan Modal Raksasa
Tak berhenti di kawasan perbukitan, sentuhan perubahan juga disiapkan untuk jantung kota Kulon Progo. Pemkab mengusulkan kelanjutan pembangunan flyover Triharjo demi mempermudah akses warga menuju RSUD Wates sebagai pusat layanan kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, penataan Kawasan Alun-alun Wates dirancang untuk memperkuat identitasnya sebagai ruang publik yang humanis dan berbudaya. Transformasi kawasan ini telah diawali dengan relokasi SDN Percobaan dan SMPN 1 Wates ke gedung sekolah terpadu. Bekas bangunan sekolah bersejarah tersebut nantinya tidak dimaknakan sebagai lahan mati, melainkan disulap menjadi museum daerah serta pusat galeri UMKM lokal.
Menanggapi jajaran paparan tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono X memberikan respons yang amat positif. Ngarso Dalem menegaskan kesiapan Pemprov DIY untuk saling bahu-membahu melalui skema pembagian pendanaan (sharing), yang porsinya bisa mencapai 50 hingga 100 persen disesuaikan dengan kapasitas fiskal daerah.
"Yang penting program itu masuk dulu ke perencanaan provinsi dan kabupaten," ungkap Sultan penuh ketenangan.
Baca Juga: Menatap Riak Penolakan Kadispar DIY: Ketika Suara Warga Bentrok dengan Aturan Birokrasi
Sultan menekankan, kendati keterbatasan kondisi fiskal membuat tidak semua proyek bisa dituntaskan dalam satu tahun anggaran, kepastian perencanaan adalah kuncinya.
Pemkab Kulon Progo kini diminta untuk segera merampungkan Detail Engineering Design (DED) sebagai fondasi teknis pengusulan.
Rencana besar ini menumbuhkan harapan baru: wajah Kulon Progo akan kian molek, aman, dan menyejahterakan warganya. (gas)
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja