RADAR MALIOBORO— Komunikasi menjadi fondasi utama dalam dunia kerja. Setiap instruksi, ide, hingga keputusan bergantung pada proses penyampaian pesan yang jelas. Namun pada praktiknya, miskomunikasi masih sering terjadi dan kerap dianggap sepele, padahal dampaknya bisa menghambat produktivitas hingga memicu konflik antar rekan kerja.
Miskomunikasi atau miscommunication merupakan kondisi ketika pesan yang disampaikan tidak dipahami sesuai dengan maksud pengirimnya. Di lingkungan kerja, hal ini bisa muncul akibat perbedaan latar belakang, gaya komunikasi, hingga struktur organisasi yang terlalu kompleks. Jika menyangkut informasi penting, kesalahan komunikasi tentu berpotensi menimbulkan masalah serius.
Perbedaan usia dan jabatan juga menjadi faktor pemicu. Atasan kerap menggunakan istilah atau bahasa formal yang tidak selalu mudah dipahami oleh staf, sementara komunikasi satu arah membuat bawahan ragu untuk bertanya. Selain itu, ketergantungan pada media digital seperti email dan aplikasi pesan instan sering kali menghilangkan unsur ekspresi dan nada bicara, sehingga pesan mudah disalahartikan.
Para pakar komunikasi menyarankan agar setiap individu memiliki tujuan jelas saat berbicara. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah memahami misi komunikasi, risiko yang mungkin timbul, standar yang diharapkan, serta langkah konkret yang harus dilakukan. Dengan begitu, pesan tidak hanya terdengar, tetapi juga dipahami.
Untuk meminimalkan miskomunikasi, perusahaan disarankan membangun budaya komunikasi terbuka. Memberikan instruksi secara jelas, melatih kebiasaan mendengarkan aktif, serta mendorong karyawan untuk bertanya tanpa takut dinilai adalah langkah penting. Pemilihan saluran komunikasi yang tepat juga berperan besar, terutama untuk pesan yang bersifat mendesak atau krusial.
(Alena Mutiara)
Editor : Iwa Ikhwanudin