GUNUNGKIDUL – Siapa sangka, di balik derasnya aliran Sungai Oya tepat di bawah Jembatan Handayani (eks Jembatan Gantung Lemahbang), Gunungkidul, Yogyakarta, tersimpan jejak laut purba yang mengagumkan. Fosil koloni karang dari Zaman Miosen (sekitar 10-15 juta tahun lalu) baru-baru ini menjadi sorotan warga dan pecinta geologi setelah dibagikan secara viral di media sosial oleh @infomitigasi.
Bongkahan batu yang ditemukan menunjukkan pola indah berupa lubang-lubang kecil menyerupai bunga atau bintang, disebut calice, tempat polip karang hidup jutaan tahun silam. Ada pula struktur radial seperti septa dan serat memanjang yang menandakan arah pertumbuhan karang menuju cahaya matahari. Proses erosi air sungai justru mempercantik penampilan fosil ini dengan mengikis bagian luar dan memperlihatkan struktur dalam yang menakjubkan.
Mengapa Ada Fosil Karang di Perbukitan Karst Gunungkidul yang Kering?
Menurut penjelasan geologi, sekitar 10-15 juta tahun lalu pada Kala Miosen, wilayah Gunungkidul merupakan laut dangkal tropis yang jernih dan hangat, mirip dengan kondisi terumbu karang Bunaken atau Raja Ampat saat ini. Kawasan ini menjadi taman laut purba yang kaya kehidupan.
Ketika karang mati, kerangkanya tertimbun sedimen. Selama jutaan tahun, mineral dari air tanah meresap dan menggantikan jaringan organik menjadi kristal kalsit atau silika, sehingga fosil terasa berat dan mengkilap seperti batu permata. Aktivitas tektonik kemudian mengangkat dasar laut ini menjadi daratan dan perbukitan karst yang kita lihat hari ini.
Temuan ini merupakan bagian dari Formasi Oyo, formasi batuan kaya jejak kehidupan purba di Pegunungan Selatan Jawa. Formasi ini tersusun dari batugamping, batulanau gampingan, dan batupasir yang mencatat sejarah pengangkatan tektonik wilayah tersebut.
Potensi Geowisata dan Edukasi di Gunungkidul
Penemuan fosil karang di Sungai Oya ini semakin memperkaya khazanah geologi Gunungkidul. Wilayah ini sudah dikenal dengan gua-gua karst, sungai bawah tanah, serta temuan fosil lainnya seperti fosil tumbuhan, kerang, bahkan geode (batu berisi kristal) yang sempat menjadi wisata dadakan di masa lalu.
Warga sekitar, termasuk di Gayamharjo dan area Lemahbang, sering menemukan batuan fosil serupa saat beraktivitas di sungai atau perbukitan. Beberapa pecinta batu bahkan membagikan fosil pohon dan batuan unik dari lokasi yang sama.
Baca Juga: Mengenal Konsep Y2K dan Perjalanannya dari Estetika Awal 2000-an hingga Tren Masa Kini
Ahli Geologi dari universitas setempat menyatakan bahwa fosil-fosil ini bukan hanya bukti sejarah Bumi, tapi juga potensi besar untuk geowisata edukasi di Gunungkidul. “Ini pengingat bahwa alam selalu berubah. Sungai yang kini mengalir di desa, dulu adalah pusat terumbu karang megah,” ujar seorang pengamat yang sering menelusuri wilayah tersebut.
Pesan untuk Warga dan Pengunjung
Bagi yang ingin melihat langsung, lokasi di sekitar Jembatan Handayani dan aliran Sungai Oya bisa dikunjungi dengan tetap menjaga kelestarian alam. Disarankan tidak mengambil fosil secara sembarangan tanpa koordinasi dengan pihak berwenang, karena merupakan bagian dari warisan geologi yang perlu dilestarikan.
Temuan ini juga mengajak kita merenung: Gunungkidul yang kini identik dengan karst kering dan wisata pantai, dulunya adalah dasar laut tropis yang penuh kehidupan. Jejak purba ini menjadi daya tarik baru bagi wisatawan yang suka sejarah alam dan geologi. (iwa)
(Sumber: Utas Infomitigasi di X dan data geologi Formasi Oyo)
Editor : Iwa Ikhwanudin