YOGYAKARTA, 21 April 2026 – Siapa sangka, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) yang kerap dianggap hama invasif dan bikin jijik di sungai-sungai Jogja, termasuk Sungai Progo, justru menyimpan potensi besar sebagai bahan pupuk organik cair (POC) alami.
Penelitian IPB University tahun 2021 membuktikan daging ikan ini mengandung 10 asam amino esensial lengkap, termasuk triptofan yang menjadi prekursor langsung Indole-3-Acetic Acid (IAA), hormon tumbuh alami yang tak bisa didapat dari pupuk NPK biasa.
Thread viral di X (Twitter) oleh akun @rouppme yang dibagikan hari ini langsung ramai dibahas petani dan warga Jogja.
Banyak yang menyebut ikan sapu-sapu di Sungai Progo bahkan mencapai ukuran 1 kg lebih per ekor.
“Di sungai Progo ikan ini besar-besar, biasanya cuma dibuang lagi,” tulis salah satu netizen.
Kini, ikan tersebut bisa diubah menjadi biostimulan tanaman yang ramah lingkungan sekaligus mengurangi sampah invasif.
Menurut studi Hasnidar et al. (2021) yang dipublikasikan di Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia IPB, kandungan asam amino daging ikan sapu-sapu dari Danau Tempe (Sulsel) antara lain:
Leusin 5,78% → mendukung sintesis protein dan pertumbuhan sel tanaman
Arginin 5,30% → meningkatkan pembelahan sel dan toleransi stres
Lisin 4,55% → membantu pembentukan klorofil
Fenilalanin 4,45% → meningkatkan produksi lignin dan ketahanan tanaman
Triptofan 0,67% → prekursor langsung IAA (zat pengatur tumbuh alami) yang mendorong pemanjangan akar dan sel
“Artinya ikan sapu-sapu bukan sekadar sumber nitrogen. Kalau difermentasi jadi POC, ada efek biostimulan yang memengaruhi hormon tanaman,” jelas @rouppme yang sudah 20 tahun berkecimpung di agrokimia.
Resep Fermentasi POC Ikan Sapu-Sapu (Mudah Dibuat Petani Jogja)
Bahan (untuk ±1 kg ikan):
1 kg ikan sapu-sapu segar (dicincang halus)
250 ml molase (tetes tebu)
50 ml EM4 (Effective Microorganisms)
500 ml air bersih non-klorin
Cara membuat:
Campur semua bahan dalam wadah tertutup, aduk rata.
Fermentasi selama 14–21 hari di tempat teduh. Aduk sekali sehari selama 7 hari pertama, buka tutup sebentar setiap 2 hari untuk mengeluarkan gas.
Saring cairan hasil fermentasi.
Cara aplikasi:
Foliar spray: 5–10 ml per liter air
Kocor ke tanah: 10–20 ml per liter air
Gunakan 1–2 kali seminggu pada fase vegetatif tanaman
Hasilnya? Tanaman lebih cepat tumbuh akar, daun lebih hijau, dan ketahanan stres lebih baik.
Petani bisa memanfaatkan ikan sapu-sapu yang melimpah di sungai-sungai Yogyakarta tanpa biaya mahal.
Catatan Penting untuk Petani Jogja
Meski potensinya besar, ikan yang diambil dari sungai tercemar berisiko mengandung logam berat.
Disarankan melakukan uji laboratorium terlebih dahulu sebelum diproduksi massal.
“Potensi ini ada, perlu uji logam berat dulu sebelum aplikasi skala penuh, terutama sapu-sapu dari sungai perkotaan,” tambah @rouppme.
Inovasi ini sejalan dengan semangat pemerintah daerah Yogyakarta yang mendorong pertanian organik dan pengelolaan limbah invasif.
Bahkan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pernah menyatakan keinginannya menjadikan ikan sapu-sapu sebagai pupuk.
(Sumber: Thread @rouppme di X dan Jurnal IPB Hasnidar et al. (2021)
Editor : Iwa Ikhwanudin