Permintaan global terhadap kakao berkualitas tinggi dan berkelanjutan terus meningkat. Namun, Indonesia menghadapi tantangan serius berupa produktivitas petani yang masih stagnan. Saat ini, produktivitas kakao nasional berada di kisaran 0,5–0,8 ton per hektare, masih jauh dari potensi optimal sebesar 1,5 ton per hektare.
Kesenjangan antara pasokan dan permintaan ini memicu kekhawatiran Indonesia akan tertinggal dalam rantai pasok global. Terlebih, lebih dari 90% kakao nasional dihasilkan oleh petani kecil yang terkendala penuaan tanaman, serangan hama, serta keterbatasan akses teknologi dan pembiayaan.
Menjawab situasi tersebut, Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) INSTIPER bersama CIRAD memperkuat sektor ini melalui program INDOKAKAO. Program ini merupakan inisiatif strategis Indonesia–Prancis yang berfokus pada penguatan budidaya berkelanjutan dan ketahanan ekologis sejak September 2025.
Inovasi Smart Agroforestry
INDOKAKAO mendorong pendekatan smart agroforestry, yakni sistem budidaya yang mengintegrasikan kakao dengan pohon pelindung dan komoditas lain. Strategi berbasis data ini tidak hanya meningkatkan kualitas kakao, tetapi juga memberikan pendapatan tambahan bagi petani serta memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim.
Guna mempercepat adopsi di lapangan, PSLB INSTIPER menyelenggarakan pelatihan intensif pada 14–17 April 2026 di KP2 INSTIPER Ungaran, Semarang. Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari penyuluh, fasilitator Perhutanan Sosial, hingga pemimpin kelompok tani disiapkan menjadi aktor kunci perubahan di tingkat tapak.
Direktur PSLB INSTIPER, Agus Setyarso, menegaskan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi petani. “Lewat program INDOKAKAO, kami memastikan petani tidak hanya dilatih, tetapi didampingi agar inovasi benar-benar diterapkan dan berdampak pada peningkatan produktivitas,” ujarnya.
Dukungan Pembiayaan dan Riset Global
Program ini melibatkan kolaborasi lintas mitra. CIRAD menghadirkan inovasi riset global bersama para pakar seperti Philippe Vaast, Olivier Sounigo, dan Christian Cilas. Sementara itu, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) memperkuat aspek pembiayaan.
Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, menyatakan komitmennya dalam mendukung kemandirian ekonomi petani, khususnya perempuan. “Para petani perempuan yang bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar akan mendapatkan pelatihan yang mendukung keberlanjutan usaha mereka melalui praktik yang diusung INDOKAKAO,” ungkapnya.
Melalui pendekatan ini, Indonesia diharapkan mampu mereposisi diri dari sekadar produsen volume menjadi pemain utama kakao berkelanjutan bernilai tinggi di pasar premium dunia, sejalan dengan visi “Smart Forests, Premium Cocoa.”
Editor : Heru Pratomo