YOGYAKARTA – Ukuran kesuksesan sekolah dan madrasah di bawah Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen & PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY kini lebih jelas. Dengan penilaian kinerja sekolah/madrasah Muhammadiyah berbasis key performance indicators (KPI).
Peluncuran dibarengi dengan seminar pendidikan dan penandatanganan perjanjian kerja sama antara sekolah Muhammadiyah dengan Marshall Cavendish Education (MCE) Singapura, di Aula SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Selasa (2/6/2026) Seminar mengusung tema “Transformasi Tata Kelola Kinerja Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Berbasis KPI: Mewujudkan Pendidikan Unggul, Akuntabel, dan Berkemajuan”.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY, Achmad Muhamad, M.Ag menyebut, instrumen KPI menjadi upaya membangun sistem pengukuran kinerja sekolah/madrasah yang lebih terstruktur, komprehensif, dan berkelanjutan.
Achmad menjelaskan, instrumen KPI dirancang untuk membantu sekolah/madrasah Muhammadiyah meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan secara sistematis pada seluruh aspek yang menjadi standar mutu pendidikan.
KPI juga mengukur kualitas proses pembelajaran, pengelolaan aset dan keuangan yang transparan serta akuntabel, pengembangan organisasi pembelajar, hingga aspek tata kelola sekolah/madrasah Muhammadiyah DIY.
“Instrumen KPI Muhammadiyah memiliki lima indikator utama. Berbeda dengan model pengukuran kinerja lainnya, indikator pertama menempatkan nilai-nilai ideologis Muhammadiyah sebagai fondasi utama, mulai dari implementasi nilai amanah, tata kelola berbasis nilai Islam, hingga penguatan ibadah yang dapat diukur secara jelas melalui berbagai program dan kegiatan sekolah,” paparnya.
Lebih lanjut, untuk mendorong peningkatan mutu secara bertahap, Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY membagi kategori sekolah menjadi sekolah bertumbuh, sekolah berkembang, sekolah unggul pratama, sekolah unggul madya, dan sekolah unggul utama.
“Melalui instrumen ini kami ingin memastikan setiap sekolah/madrasah Muhammadiyah DIY memiliki ukuran kinerja yang jelas dan dapat dipantau perkembangannya dari waktu ke waktu. Baseline setiap sekolah memang berbeda, tetapi yang terpenting ada peningkatan yang terukur sehingga sekolah yang masih berkembang dapat terus bertumbuh menuju sekolah unggul,” tuturnya.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, Ph.D., mengapresiasi langkah inovatif yang dilakukan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY. Ia menyebut, instrumen ini penting untuk mengukur capaian dan target keberhasilan sekolah secara terukur berdasarkan delapan Standar Nasional Pendidikan yang dipadukan dengan kurikulum nasional dan ciri khas Kemuhammadiyahan.
“Ini sangat baik untuk melihat secara kuantitatif sejauh mana ukuran keberhasilan yang sudah dicapai dengan target yang jelas dan terukur,” ujarnya.
Didik mengingatkan agar penerapan KPI tidak mengabaikan nilai-nilai kualitatif yang menjadi ruh pendidikan Muhammadiyah. Seperti karakter, kemandirian, toleransi, dan budaya berbagi antarsekolah. “Karakter seperti sopan santun, toleransi, dan kemandirian itu agak sulit dikuantitatifkan. Jadi, KPI bukan satu-satunya. Jangan sampai penggunaan KPI menghilangkan unsur penting yang justru dihasilkan dari pendidikan Muhammadiyah,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PWM DIY, Ikhwan Ahada menegaskan, pendidikan Muhammadiyah tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan adab yang berlandaskan nilai tauhid serta teologi Al-Ma'un yang diwariskan KH Ahmad Dahlan.
Baca Juga: Bahaya! Ini Resiko Kehamilan di Usia Remaja, Bisa Pengaruhi Kesehatan Ibu Maupun Bayi
Baginya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui capaian akademik, tetapi juga aspek afektif yang membentuk kepribadian peserta didik.
“Mbah Dahlan mengajarkan ilmu harus berlandaskan tauhid, tidak melahirkan kesombongan, serta mampu memadukan akal, ilmu, dan amal. Karena itu, aspek afeksi juga harus menjadi ukuran keberhasilan pendidikan,” ujarnya.
Ikhwan berharap, sekolah/madrasah Muhammadiyah di DIY mampu menerapkan pendidikan yang holistik, integratif, dan berkemajuan tanpa kehilangan identitas serta nilai-nilai khas Muhammadiyah.
Kegiatan ini diakhiri dengan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Marshall Cavendish Education (MCE), Singapura.
Editor : Heru Pratomo