RADAR MALIOBORO - Setiap tahun yang dihabiskan seorang anak di lingkungan pendidikan usia dini merupakan waktu pembelajaran dan perkembangan yang pesat. Dalam fase emas ini, matematika memainkan peran kunci untuk menstimulasi tumbuh kembang mental dan kognitif anak secara maksimal.
Lebih dari sekadar keterampilan dasar, prestasi matematika pada usia dini secara konsisten ditemukan sebagai prediktor terkuat dari kesuksesan akademik anak secara keseluruhan. Bahkan, penguasaan konsep ini juga menjadi modal utama bagi keberhasilan mereka saat memasuki dunia kerja di masa depan.
Keterkaitan erat ini terjadi karena matematika pada usia dini bukanlah tentang hafalan angka yang kaku, melainkan tentang pembentukan pola pikir logis, kritis, dan terstruktur. Ketika seorang anak terbiasa memecahkan masalah matematika sederhana melalui bermain, seperti mengelompokkan benda atau memahami pola, otak mereka sedang membangun sirkuit saraf yang kuat untuk analisis tingkat tinggi.
Baca Juga: Rilis Lagu “Dan Aku Rindu”, Indro Warkop Tumpahkan Kerinduan Mendalam pada Dono dan Kasino
Kemampuan analisis inilah yang nantinya menjadi modal utama mereka dalam beradaptasi dengan kompleksitas dunia kerja modern, di mana keterampilan memecahkan masalah (problem-solving) jauh lebih dihargai daripada sekadar kemampuan menghafal informasi.
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah mengubah stigma negatif bahwa matematika itu menakutkan. Guru dan orang tua diimbau untuk menyisipkan konsep numerasi lewat aktivitas yang menyenangkan, seperti menghitung langkah kaki, membagi potongan buah secara adil, atau bermain jual-beli, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, investasi waktu dan stimulasi numerasi di usia emas ini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan fondasi untuk mencetak generasi yang kompetitif dan siap kerja di masa depan. (Bunga Faizati Hudianna).
Editor : Iwa Ikhwanudin