RADAR MALIOBORO - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 sudah berakhir.
Sisa kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa.
Berbicara MPLS, langkah tak biasa diambil SMA Islam Al Azhar 9 Jogja dalam menyambut peserta didik baru pada tahun ajaran ini.
Jika biasanya MPLS identik dengan seminar ruangan, outbound, atau gim edukatif biasa, sekolah ini justru memboyong 140 siswa barunya ke lapangan golf.
Baca Juga: Tumbuh di Rumah yang Sama, Kenapa Lukanya Beda? Realita Urutan Lahir Lewat Drama Korea Reply 1988
Langkah inovatif tersebut diambil untuk menyelaraskan petunjuk teknis (juknis) MPLS dan kurikulum sekolah dengan instruksi dinas terkait program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH).
Tak sekadar rekreasi, kehadiran olahraga eksklusif ini ditujukan sebagai ajang pemetaan awal potensi (screening) bakat para siswa di bidang olahraga.
Koordinator MPLS SMA Islam Al Azhar 9 Jogja, Ahmad Latif Noor, menjelaskan bahwa pengenalan golf ini menjadi momen tepat untuk memaksimalkan fasilitas milik lembaga.
Sekolah memanfaatkan area driving range yang berada di Asram Edupark, bagian dari Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS).
"Yang pertama memang mengikuti juknis dinas terkait program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Kedua, kita punya fasilitas driving range di Asram Edupark. Jadi kenapa tidak dimanfaatkan?" ujar Latif, Rabu (22/7/2026).
Bidik Atlet Muda Potensial
Seluruh siswa baru diwajibkan menjajal olahraga ini dengan kuota minimal 10 kali pukulan.
Menariknya, dari 140 peserta yang hadir, beberapa siswa tampak langsung fasih menguasai teknik dasar meski baru pertama kali memegang stik golf.
"Saat di-screening, beberapa anak ternyata sudah bisa. Memang belum sempurna, tapi mengayun dan memukul bola hingga kena itu tergolong susah untuk pemula," kata Latif.
Proses pemetaan potensi ini dinilai krusial.
Sekolah menargetkan lahirnya bibit-bibit atlet golf muda yang siap berlaga di tingkat lokal hingga internasional.
Ke depan, siswa yang terdeteksi berbakat akan dimasukkan ke dalam wadah Pembinaan Anak Berbakat (PAB) untuk persiapan kompetisi berbeda dari ekstrakurikuler biasa yang bersifat opsional.
Antusiasme para siswa pun terbilang tinggi. Meski batas minimal hanya 10 pukulan, tak sedikit siswa yang minta porsi tambahan karena ketagihan.
"Kenyataannya banyak yang nambah, mereka penasaran dan memang menikmati," tambah Latif.
Editor : Meitika Candra Lantiva