Ditinggal Orangtua di Asrama, Siswa Sekolah Rakyat (SR) Kulon Progo Menangis hingga Mengompol

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 13:31 WIB
MERAPIKAN: Asih mengecek kondisi kamar siswa dan membersihkan asrama yang masih kotor. (Foto: ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
MERAPIKAN: Asih mengecek kondisi kamar siswa dan membersihkan asrama yang masih kotor. (Foto: ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 KULON PROGO – Sebuah babak baru dalam hidup dimulai bagi 359 siswa Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kulon Progo. Sejak Jumat (31/7) lalu, mereka resmi meninggalkan rumah dan memulai kehidupan di asrama. Namun, di balik semangat kemandirian, hari-hari pertama di lingkungan baru ini diwarnai tangis, rindu, dan kebiasaan lama yang sulit ditinggalkan.

Sejumlah siswa diketahui menangis tersedu-sedu karena kangen keluarga. Bahkan, ada yang mengompol di tempat tidur karena belum terbiasa tidur sendiri tanpa pendampingan orangtua.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah SR Terintegrasi 1 Kulon Progo, Agus Ristanto, mengungkapkan bahwa masa transisi ini memang penuh tantangan. Selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung hingga 14 Agustus, para siswa dibimbing untuk melakukan segala sesuatu secara mandiri.

"Kami melalui wali asrama membimbing dan mengajari siswa. Kalau ada yang tidak bisa mencuci, kami ajari. Tidak hanya sekolah, pembiasaan asrama juga ditekankan oleh masing-masing guru asuh," ujar Agus kepada awak media, Selasa (4/8/2026).

Baca Juga: Tangisan Subuh Bawa Warga ke Semak-semak, Bayi Laki-laki Ditemukan dalam Tas di Semin Gunungkidul

Selama tiga hari pertama, sekitar 10 siswa diketahui masih kerap menangis. Rasa rindu yang mendalam kepada orangtua dan saudara di rumah menjadi pemicu utama. Beberapa anak bahkan merasa terguncang secara psikologis karena harus berpisah dari keluarga untuk pertama kalinya.

Untuk mengatasi hal ini, para wali asrama dan guru melakukan pendekatan personal. Mereka mendengarkan keluhan serta curhatan siswa. Jika kesedihan masih terasa mendalam, pihak sekolah akan menghubungkan siswa dengan keluarga melalui sambungan telepon atau video call. Orangtua pun diminta untuk ikut menyemangati putra-putri mereka dari kejauhan.

"Ada segelintir siswa, tidak lebih dari 10 yang menangis, ada putra ataupun putri. Itu sangat wajar," ungkap Agus.

Selain rindu keluarga, beberapa siswa juga mengalami kesulitan beradaptasi dengan aturan pembatasan penggunaan gadget di asrama dan sekolah. Mereka hanya diizinkan menggunakan perangkat elektronik sekali dalam seminggu. Kebijakan ini diambil untuk mendorong siswa lebih banyak berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya, sehingga tidak tergantung pada dunia maya.

Baca Juga: Satpol PP Jogja Tertibkan Plang Replika Malioboro, Tujuh Properti Fotografer Disita usai Dikeluhkan Wisatawan

Wali Asrama, Asih Suryati, membenarkan bahwa masih banyak siswa yang membawa kebiasaan dari rumah ke asrama. Beberapa anak bahkan tidak memiliki kebiasaan menyikat gigi karena di rumah mereka tidak tersedia fasilitas sikat gigi. Alhasil, para wali asrama harus mengajari mereka cara menggosok gigi yang benar, termasuk cara merapikan kamar tidur dan menjaga kebersihan lingkungan.

Salah satu tantangan terbesar adalah kebiasaan mengompol. Pihak sekolah menemukan beberapa siswa yang masih mengompol di tempat tidur. Namun, daripada memarahi, wali asrama memilih pendekatan yang lebih manusiawi. Mereka membimbing siswa untuk membersihkan kasur sendiri dan memperkuat mental anak agar tidak merasa malu.

"Ada yang mengompol, tapi kami ajari juga cara membersihkan kasurnya," ungkap Agus Ristanto.

Asih Suryati menjelaskan bahwa peran wali asrama sangat krusial dalam masa adaptasi ini. Mereka berfungsi layaknya orangtua baru bagi anak-anak yang tinggal jauh dari keluarga. Bahkan, untuk siswa yang kesulitan tidur karena terbiasa tidur dengan orangtua, wali asrama rela menemani tidur sambil menenangkan agar anak terbiasa.

Baca Juga: Fasilitas Sekolah Rakyat Kulon Progo Belum Lengkap, Siswa Jemur Pakaian di Pagar Asrama

"Wali asrama ibarat orangtua baru bagi anak. Tentu tugas orangtua melakukan pembimbingan ke anak," ungkap Asih.

Meskipun masih banyak tantangan, Agus Ristanto berharap orangtua tidak khawatir berlebihan. Menurutnya, sikap overprotektif orangtua justru bisa menjadi penghambat pertumbuhan kemandirian anak.

"Kehidupan di asrama menuntut siswa belajar mandiri. Mereka mulai dibiasakan bangun pagi, beribadah, merapikan tempat tidur, menjaga kebersihan kamar, hingga menyelesaikan pekerjaan pribadi secara bersama-sama," jelasnya.

SR Terintegrasi 1 Kulon Progo merupakan program prioritas pemerintah pusat yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, khususnya yang berada di garis kemiskinan ekstrem (desil satu dan dua). Sekolah yang terletak di Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah ini dirancang untuk menampung hingga 1.080 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.

Meski sarana dan prasarana belum sepenuhnya lengkap, para siswa tampak bersemangat menjalani hari-hari pertama mereka di asrama. Proses adaptasi memang tidak mudah, namun dengan pendampingan penuh dari para guru dan wali asrama, diharapkan mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang mandiri dan tangguh. (gas)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Siswa Asrama Sekolah Rakyat pendidikan karakter kemandirian anak kulon progo