Inovasi AI Kesehatan di UMY: Penolong Tenaga Medis, Bukan Pengganti Peran Humanis Dokter

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 15:02 WIB
Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Slamet Riyadi (kiri) sedang memaparkan materi. (Foto: Cintia Yuliani/Radar Jogja)
Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Slamet Riyadi (kiri) sedang memaparkan materi. (Foto: Cintia Yuliani/Radar Jogja)

 BANTUL- Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini kian merambah sektor kesehatan dan dinilai mampu mendongkrak kualitas layanan medis secara signifikan.

Kendati demikian, integrasi teknologi canggih ini wajib diterapkan secara bijak dan bertanggung jawab dengan menempatkan keselamatan pasien serta sentuhan humanis tenaga kesehatan sebagai prioritas utama.

Pandangan tersebut ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Slamet Riyadi. Dalam ajang International Conference UMY yang digelar di Gedung AR Fakhruddin B pada Rabu (5/8/2026), ia menyampaikan bahwa AI sejatinya hadir bukan untuk menggeser profesi dokter atau perawat.

"AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Namun, penggunaannya harus tetap menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan utama," tegas Slamet.

Baca Juga: Dugaan Keracunan Makan Bergizi Gratis Kembali Berulang, Puluhan Siswa SMKN 1 Nanggulan Kulon Progo Mengeluh Mual hingga Tak Masuk Sekolah

Ia menjelaskan bahwa kehadiran AI dirancang sebagai alat bantu tepercaya untuk mempercepat dan mempertajam analisis klinis.

Secara teknis, AI mencakup ranah machine learning yang mampu memetakan riwayat penyakit dan data laboratorium pasien untuk memprediksi risiko kesehatan.

Selain itu, ada pula pemanfaatan deep learning yang dapat memproses data rinci seperti hasil pemindaian radiologi hingga rekaman elektrokardiogram (EKG).

Pengembangan AI kesehatan sendiri melewati tahapan yang cukup presisi, mulai dari perumusan masalah, pengolahan data, hingga evaluasi berkala agar tetap relevan dengan kondisi riil pasien.

Baca Juga: Dari Borneo FC hingga PSM, Yogyakarta Kembali Jadi Magnet Training Camp Klub Liga Indonesia

Berbagai tantangan medis pun dapat terurai, seperti mempercepat pembacaan radiologi, memetakan interaksi obat, hingga memangkas beban administrasi rumah sakit.

Menariknya, kecerdasan buatan ini juga menjadi jawaban atas ketimpangan akses medis di Indonesia.

Di daerah yang minim dokter spesialis, sistem AI dapat dimanfaatkan untuk membantu penanganan awal sehingga kualitas pelayanan kesehatan menjadi lebih merata hingga ke pelosok.

Tak hanya di ruang perawatan, AI turut mempercepat riset medis dalam menemukan pola penyakit serta formulasi terapi baru.

Meski demikian, keberhasilan teknologi ini tidak hanya diukur dari tingginya akurasi algoritma di atas kertas.

Baca Juga: Viral di Medsos, Aksi Begal di Pakem Sleman Sadis, Pengendara Dianiaya dan Kehilangan Rp 4,5 Juta

Slamet mengingatkan pentingnya mengukur dampak nyata terhadap keselamatan pasien, kemudahan operasional bagi tenaga medis, serta kepatuhan pada etika hukum.

"Yang paling penting bukan sekadar menghasilkan model dengan akurasi tinggi, tetapi memastikan AI benar-benar memberikan manfaat bagi pasien," pungkasnya.

Slamet berharap sinergi erat antara kampus, rumah sakit, pemerintah, dan industri dapat terus terjalin agar inovasi AI yang lahir tak sekadar canggih, namun juga relevan dengan kebutuhan hakiki masyarakat. (cin)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
AI Kesehatan UMY Bantul Inovasi Medis Teknologi Kesehatan Layanan Dokter AI