Tiga Kepala, Satu Impian, Kisah Haru Mahasiswa UMY Menembus Batas di Malaysia

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:55 WIB
Tiga mahasiswa Teknik UMY yang berhasil meraih tiga penghargaan di Kompetisi Beton Internasional Malaysia.
Tiga mahasiswa Teknik UMY yang berhasil meraih tiga penghargaan di Kompetisi Beton Internasional Malaysia.

 KUANTAN, MALAYSIA — Ada aroma semen, keringat, dan tekad pantang menyerah yang membakar sudut Laboratorium Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam dua bulan terakhir. Ketika sebagian besar mahasiswa memilih beristirahat atau pulang ke rumah saat akhir pekan, tiga anak muda—Dewa Tri Puja, Adimas Wahyu Ariadani, dan Ariska Vera Wibowo—justru memilih mengurung diri di antara tumpukan material.

Hasil dari peluh dan pengorbanan di hari Minggu itu akhirnya terbayar tuntas di ajang International Highest Early Strength Eco-Green Concrete Cube Competition (I-HESEGC) 2026 yang berlangsung di Politeknik Sultan Haji Ahmad Shah (POLISAS), Kuantan, Pahang, Malaysia, pada 2–4 Agustus 2026.

Tim yang menamai diri mereka Civil Nexus ini memboyong tiga penghargaan sekaligus: Gold Medal, Top 4 Special Award, dan predikat bergengsi Best Paper.

Lelah yang Beradu dengan Ujian Akhir

Baca Juga: Gunung Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas Guguran, Meluncur 1,8 Km ke Arah Kali Krasak dan Boyong

Pencapaian luar biasa ini diraih bukan tanpa ujian berat. Waktu persiapan mereka tergolong sangat singkat, yakni hanya dua bulan. Beban terasa kian berlipat karena saat bersamaan para anggota tim tengah berjibaku dengan Ujian Akhir Semester (UAS) serta kompetisi nasional lainnya. Dewa, misalnya, baru saja menyelesaikan babak final kompetisi beton nasional di Jakarta, sedangkan Adimas baru bertolak dari arena lomba di Kuala Lumpur.

Tanpa jeda untuk bernapas lega, ketiga mahasiswa di bawah bimbingan Hakas Prayuda, S.T., M.Eng., Ph.D. ini langsung tancap gas. Mereka melahap hari demi hari tanpa libur. "Hari Minggu pun kami tetap di laboratorium," kenang Dewa, Ketua Tim Civil Nexus, saat membagikan kisahnya.

Regulasi perlombaan pun menuntut ketepatan yang luar biasa. Peserta dilarang menggunakan mesin aduk beton. Seluruh proses—mulai dari menimbang racikan material, mengaduk secara manual dengan tenaga tangan, hingga mencetaknya ke dalam cetakan—harus rampung sempurna hanya dalam tempo 60 menit.

Beton eco-green yang mereka ciptakan harus diuji daya tekannya tepat saat berusia 24 jam. Hal ini menuntut kalkulasi yang amat presisi agar beton bisa mengeras dan mencapai kekuatan maksimal dalam hitungan jam.

Baca Juga: 30 Tahun Wafat, Wartawan Bernas Udin Terus Diperjuangkan Raih Gelar Pahlawan Nasional

Menyatukan Tiga Kepala di Tengah Rasa Takut

Selama proses riset, kegagalan adonan beton sempat datang silih berganti. Tekanan kian terasa saat mereka menyadari bahwa delegasi dari negara lain, seperti Politeknik Sultan Idris Shah dan Politeknik Sultan Abdul Halim Mu’adzam Shah, tampil dengan persiapan yang sangat matang. Rasa cemas dan minder sempat hinggap di benak mereka.

Namun, bukan semangat mahasiswa UMY namanya jika menyerah pada ketakutan. Dinamika menyatukan tiga isi kepala dengan gagasan berbeda diselesaikan lewat dialog yang hangat. Miskomunikasi dilebur menjadi evaluasi, dan setiap formula yang gagal dijadikan pijakan data untuk eksperimen berikutnya.

"Kuncinya adalah menurunkan ego dan mencari jalan tengah. Kami menyatukan tiga kepala untuk satu tujuan bersama," tutur Dewa.

Baca Juga: Merah Putih Mulai Menghiasi Jalanan, Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI Terasa di Berbagai Sudut Kota

Dukungan Kampus Jadi Wujud Nyata Impian

Langkah pantang menyerah Tim Civil Nexus mendapat penopang kuat dari pihak kampus. UMY bersama Program Studi Teknik Sipil memfasilitasi seluruh kebutuhan tim secara penuh—mulai dari penyediaan material dan peralatan laboratorium, biaya riset, hingga tiket penerbangan dan penginapan selama bertanding di Negeri Jiran.

Dukungan penuh ini membuat Dewa dan kawan-kawan bisa fokus melahirkan inovasi tanpa perlu dipusingkan oleh urusan logistik dan teknis. Ekosistem akademik yang responsif inilah yang terbukti mematangkan mentalitas mahasiswa Indonesia untuk mampu bersaing di panggung internasional.

Bagi Tim Civil Nexus, raihan Gold Medal dan Best Paper di Malaysia bukanlah titik henti, melainkan gerbang pembuka untuk petualangan inovasi berikutnya di tingkat global.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Teknik Sipil UMY Prestasi Mahasiswa UMY I-HESEGC 2026 Inovasi Beton Eco-Green Kuantan Malaysia