RADAR MALIOBORO - Efisiensi anggaran pendidikan memang sudah dilakukan mulai awal tahun 2025.
Imbas dari efisiensi tersebut terasa di berbagai aspek pendidikan dari mulai berkurangnya tunjangan guru, tertundanya rehabilitasi gedung sekolah dan fasilitas belajar, hingga turunnya anggaran beasiswa.
Efisiensi tersebut juga terlihat pada ajang-ajang kejuaraan nasional di bidang pendidikan, termasuk Olimpiade Sains Nasional (OSN).
OSN merupakan ajang kompetisi dan talenta di bidang sains untuk peserta didik tingkat SD, SMP, dan SMA sederajat di Indonesia.
Baca Juga: Makna Menghargai Waktu di Balik Lagu "Satu Kali" Tulus
Olimpiade ini diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
OSN tahun ini yang telah dilaksanakan pada akhir Agustus kemarin menuai perhatian karena anggaran hadiah untuk juara terlihat menurun secara signifikan dari tahun sebelum-sebelumnya.
Medali emas mendapatkan hadiah Rp 3.000.000, medali perak mendapatkan hadiah Rp 2.000.000, dan medali perunggu mendapatkan hadiah Rp 1.000.000.
Jumlah ini turun drastis jika dibandingkan tahun sebelumnya yaitu Rp 15.000.000 untuk peraih medali emas, Rp 10.000.000 untuk medali perak, dan Rp 5.000.000 untuk medali perunggu.
Baca Juga: Opening Ceremony P2K 2026 Digelar Hybrid, Rangkaian Orientasi hingga Dahlan Muda Expo
Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meminta maaf karena hadiah bagi pemenang OSN tahun ini terdampak efisiensi anggaran.
“Karena memang ada pengurangan anggaran yang signifikan untuk Puspresnas, sehingga mohon maaf kalau mungkin hadiahnya tidak besar sebagaimana yang diharapkan,” ucap Abdul Mu’ti (4/9/2026).
Peserta Clash of Champions (COC) Season 1, Sandy Kristian, ikut mengkritisi kebijakan pemerintah ini.
Ia menceritakan pengalamannya saat mengikuti ajang kompetisi tersebut di masa lalu dan membandingkannya dengan yang sekarang.
“Ini speechless sih. Soalnya bayangin pas aku ikut OSN 10 tahun lalu saat 2016 dan 2018, hadiah OSN sudah Rp5.000.000 (untuk medali emas), Rp4.000.000 (untuk medali perak), dan Rp3.000.000 (untuk medali perunggu),” ucap Sandy di akun Tiktoknya @sandyk_sk.
Baca Juga: Punya Pacar, Tapi Kok Jadi Lupa Teman? Ternyata Ini Alasan yang Sering Terjadi
Ia juga memprihatinkan bahwa OSN tahun ini dilaksanakan secara online, yang artinya tidak membutuhkan anggaran yang besar.
Padahal OSN biasanya dilaksanakan di wilayah tertentu dan biaya tiket transportasi, hotel, makan, bahkan jalan-jalan peserta kompetisi diakomodasi oleh pemerintah.
“Ini bukan masalah mata duitan atau bagaimana, tapi rasanya anak OSN semakin ke sini tidak diapresiasi dengan baik,” ujar Sandy.
Sandy menilai pemerintah tidak mau mengeluarkan effort yang berlebih untuk anak-anak berprestasi yang berpotensi menjadi generasi emas Indonesia.
Selain itu, menurut Sandy, ajang OSN biasanya digunakan oleh para siswa untuk berkenalan dan bisa menjadi akrab sebagai teman seperjuangan.
Baca Juga: Ortu Thailand Punya Cara Aneh Bikin Balita Tidur, Suara Gendang Malah Bikin Makin Pulas
Dengan diadakannya OSN secara daring, euforia tersebut tidak dapat dirasakan oleh siswa sekarang.
Kebijakan pemerintah mengenai anggaran OSN dari mulai hadiah juara, hingga perubahan pelaksanaan dari offline menjadi online ini adalah imbas dari anggaran yang dipangkas sebanyak 80% dibandingkan tahun lalu.
Editor : Meitika Candra Lantiva
Sumber : Sumber: Instagram @voxanow, dan Tiktok @sandyk_sk