Dekan FK-KMK UGM Soroti Pentingnya Libatkan Kelompok Rentan dalam Kesiapsiagaan Pandemi

Safinatun Najah • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 15:14 WIB
NUS-Lancet Pandemic Readiness Through Institutions, Mobilising Communities, and Equity (PRIME) Commission di New York
NUS-Lancet Pandemic Readiness Through Institutions, Mobilising Communities, and Equity (PRIME) Commission di New York

YOGYAKARTA – Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, menekankan pentingnya melibatkan kelompok rentan dalam membangun sistem kesiapsiagaan menghadapi pandemi.

Hal tersebut disampaikan Yodi saat menjadi salah satu pembicara dalam peluncuran laporan NUS-Lancet Pandemic Readiness through Institutions, Mobilising Communities, and Equity (PRIME) Commission di New York, Senin (21/9/2026) malam waktu Indonesia.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian United Nations General Assembly High-level Week 2026. Dalam forum internasional itu, Yodi membawa pengalaman dari Indonesia, khususnya mengenai masyarakat yang hidup di jalanan, sebagai salah satu studi kasus dalam pembahasan kesiapsiagaan pandemi.

Menurut Yodi, pengalaman kelompok rentan tersebut dapat menjadi pembelajaran penting agar sistem kesehatan tidak hanya berfokus pada masyarakat yang memiliki akses memadai terhadap layanan kesehatan, tetapi juga memperhatikan kelompok yang berada dalam kondisi sosial dan ekonomi yang lebih sulit.

Baca Juga: Lebih Takut Orang Kurang Tidur daripada Makan Kurang Nasi, Ini Alasannya Menurut Dokter Yohana

Forum tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dan pemimpin dunia, antara lain mantan Perdana Menteri Selandia Baru Helen Clark dan Penasihat Senior WHO Prof. Michel Kazatchkine. Para menteri, pimpinan organisasi internasional, serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi dunia juga hadir untuk membahas kesiapsiagaan pandemi yang lebih adil dan inklusif.

Kesiapsiagaan Pandemi Tak Cukup Andalkan Rumah Sakit

Pembahasan dalam forum tersebut mendorong perubahan cara pandang terhadap kesiapsiagaan pandemi. Persiapan menghadapi krisis kesehatan dinilai tidak cukup hanya dengan memperkuat kapasitas teknis sistem kesehatan.

Laporan PRIME menawarkan pendekatan yang lebih luas dengan memasukkan unsur pemerataan, partisipasi masyarakat, perlindungan komunitas, serta kemampuan institusi dan sistem kesehatan dalam merespons krisis.

Penelitian PRIME dilakukan di 20 negara, termasuk Indonesia. Hasil penelitian tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam merumuskan konsep 360-degree readiness, yakni pendekatan kesiapsiagaan pandemi yang melihat kebutuhan dan kapasitas berbagai lapisan masyarakat secara menyeluruh.

Pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa masyarakat dalam kondisi rentan menghadapi tantangan yang berbeda dalam memperoleh perlindungan kesehatan.

Dalam pemaparannya, Yodi menunjukkan bahwa kondisi sosial dan ekonomi seseorang dapat menentukan sejauh mana anjuran kesehatan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Anjuran Kesehatan Bisa Sulit Diterapkan Kelompok Rentan

Salah satu contoh yang dibawa dari Indonesia berasal dari penelitian tim Yodi terhadap masyarakat yang hidup di jalanan.

Sejumlah anjuran kesehatan yang terlihat sederhana ternyata tidak selalu mudah diterapkan oleh kelompok tersebut. Imbauan untuk tetap berada di rumah, misalnya, menjadi persoalan bagi mereka yang tidak memiliki tempat tinggal tetap.

Hal serupa terjadi pada anjuran mencuci tangan secara rutin. Keterbatasan akses terhadap air bersih dapat membuat langkah pencegahan tersebut sulit dilakukan secara konsisten.

Baca Juga: El Niño Sangat Kuat, Tapi Tanah Karo Justru Diguyur Hujan Hampir Setiap Hari, Apa Penyebabnya?

Kondisi itu menunjukkan bahwa kebijakan kesehatan tidak bisa diterapkan dengan pendekatan yang sama kepada seluruh kelompok masyarakat tanpa mempertimbangkan kondisi sosial dan lingkungan mereka.

Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi pandemi perlu dirancang secara lebih menyeluruh. Persiapan tidak cukup hanya mencakup rumah sakit, tenaga kesehatan, obat-obatan, alat kesehatan, maupun fasilitas medis.

Sistem kesehatan juga perlu memastikan kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan perlindungan sosial tetap mendapatkan perhatian.

Melibatkan kelompok rentan dalam perencanaan kebijakan dinilai menjadi bagian penting untuk membangun sistem kesiapsiagaan pandemi yang lebih adil, inklusif, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Editor : Bahana.
Yodi Mahendradhata FK-KMK UGM Kesiapsiagaan Pandemi Kelompok Rentan ugm