YOGYAKARTA – Enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Bagi sebagian mahasiswa, perjalanan menuju gelar sarjana tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada yang harus menghadapi persoalan ekonomi, tuntutan keluarga, pekerjaan, hingga berbagai kendala akademik yang membuat masa studi menjadi lebih panjang.
Di balik status sebagai mahasiswa yang belum juga lulus, sering kali ada perjuangan yang tidak terlihat. Sebagian mahasiswa harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada pula yang harus menyesuaikan rencana pendidikan dengan kondisi ekonomi keluarga yang berubah.
Kondisi ekonomi menjadi salah satu hal yang dapat memengaruhi perjalanan pendidikan. Biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari menjadi pertimbangan yang harus dipenuhi selama menjalani pendidikan. Ketika kondisi keuangan tidak stabil, mahasiswa dapat menghadapi kesulitan untuk mengikuti berbagai kebutuhan akademik hingga menyelesaikan tugas akhir.
Bagi mahasiswa yang hidup jauh dari keluarga, persoalan biaya dapat menjadi tantangan tersendiri. Kebutuhan tempat tinggal, makan, transportasi, biaya akademik, hingga kebutuhan penelitian atau penyelesaian tugas akhir harus dipikirkan secara bersamaan.
Dalam situasi tertentu, mahasiswa memilih bekerja sambil tetap mempertahankan kuliahnya meski konsekuensinya adalah waktu studi yang lebih panjang.
Enam tahun menjalani perkuliahan juga berarti melewati lebih banyak fase dibandingkan mahasiswa yang dapat menyelesaikan studi sesuai rencana. Ada masa ketika semangat belajar tinggi, tetapi ada pula saat ketika mahasiswa merasa lelah karena persoalan yang datang bersamaan. Tugas akhir yang semestinya menjadi tahap terakhir justru dapat tertunda ketika kondisi ekonomi dan persoalan pribadi belum memungkinkan.
Tekanan untuk segera lulus juga dapat muncul dari lingkungan sekitar. Pertanyaan mengenai kapan wisuda, mengapa belum selesai, atau mengapa masih berstatus mahasiswa terkadang membuat seseorang merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya. Padahal, setiap mahasiswa memiliki kondisi dan perjalanan yang berbeda.
Di sisi lain, menyelesaikan kuliah setelah enam tahun tetap menunjukkan adanya proses panjang untuk mempertahankan pendidikan hingga tuntas. Bagi mahasiswa yang sempat menghadapi berbagai hambatan, keberhasilan menyelesaikan studi bukan hanya tentang mendapatkan ijazah, tetapi juga tentang kemampuan bertahan ketika rencana yang dibuat tidak berjalan sesuai harapan.
Perjalanan tersebut juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak selalu dapat dilihat hanya dari seberapa cepat seseorang memperoleh gelar. Ada mahasiswa yang harus berjalan lebih lambat karena keadaan, tetapi tetap berusaha mencapai tujuan yang sama. Waktu yang lebih panjang tidak serta-merta menghapus usaha yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.
Karena itu, gelar yang diraih setelah enam tahun dapat dipandang sebagai salah satu titik akhir dari perjalanan akademik sekaligus awal dari tahap kehidupan berikutnya. Di balik selembar ijazah, terdapat waktu, tenaga, biaya, kegagalan, penundaan, dan keputusan untuk tetap melanjutkan meski perjalanan tidak selalu mudah.
Pada akhirnya, perjalanan kuliah tidak selalu harus seragam. Ada yang selesai dalam empat tahun, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Selama seseorang masih berusaha menyelesaikan tanggung jawab pendidikannya, enam tahun bukan sekadar angka dalam riwayat akademik, melainkan bagian dari cerita perjuangan yang mungkin tidak pernah sepenuhnya terlihat oleh orang lain. (Frencia Keliat)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber