KEBUMEN - Tahapan Pemilu 2024 telah memasuki masa kampanye. Di mana, pada masa ini menjadi waktu yang tepat bagi para calon legislatif (caleg) tebar pesona.
Tak pelak mereka juga harus merogoh kocek tak sedikit. Itu agar dapat dikenal masyarakat.
Seperti diungkapkan salah seorang caleg DPR RI Ahmad Bakhrun. Dia maju dari Partai Perindo sebagai caleg dari Dapil VII. Dapil ini meliputi Kebumen, Banjarnegara, dan Purbalingga.
Calon wakil rakyat asal Kecamatan Ayah, Kebumen, itu mengaku biaya politik Pemilu 2024 terbilang cukup mahal. Terlebih, ketika sudah mendekati hari coblosan.
Meski tidak secara eksplisit menyebut nominal, Bahrun memprediksi biaya yang harus dikeluarkan untuk Pemilu 2024 dapat menyentuh angka ratusan juta rupiah. Bahkan, bisa hingga miliaran rupiah.
"Ya, sekarang belum dihitung. Berapa uang keluar. Total mungkin bisa ratusan juta rupiah," ungkapnya, Jumat (1/12).
Bakhrun menegaskan, biaya tersebut bukan ditujukkan untuk praktik money politics atau politik uang.
Baca Juga: Merapi Dua Kali Luncurkan Guguran Awan Panas, Terjauh 2 Kilometer ke Arah Kali Bebeng
Tapi, untuk kebutuhan operasional dan biaya pengadaan logistik kampanye. Misalnya baliho, kaos, bendera partai, spanduk, stiker dan atribut lain.
"Buat banner gambar segala macam itu bayar pakai uang, bukan pakai daun," candanya.
Menurut Bakhrun, biaya politik akan meningkat berkali lipat ketika sudah memasuki tahap akhir kampanye.
Sebab, dirinya akan jauh lebih intensif mengumpulkan tim pemenangan serta turun ke lapangan untuk bertemu calon pemilih.
Baca Juga: Akses KAI Commuter Line di Sisi Timur Stastiun Jogja
"Detik-detik akhir kampanye itu biasanya jor-joran. Kita memang harus muter. Tim juga harus diopeni (diperhatikan)," kata kandidat calon Wakil Bupati Kebumen pada Pilkada 2015 itu.
Dia tak memungkiri, kemampuan finansial menjadi faktor penentu kemenangan pemilu. Kendati begitu, dia bersyukur karena partai politik pengusung juga ikut membantu dalam hal pemenangan.
"Baliho misalnya, ada yang dibantu partai. Ada yang pasang mandiri," ucapnya.
Bakhrun menjelaskan, modal masing-masing caleg dalam menghadapi Pemilu 2024 akan berbeda. Tergantung dari banyak faktor.
Baca Juga: Belasan Pelamar P3K Tidak Ikut Tes, BKPPD Patikan Peserta Gugur
Seperti kondisi atau luasan wilayah dapil. Selain itu, kandidat caleg dalam satu dapil.
"Contoh nih, misal satu dapil itu petarung. Artinya, pengeluaran royal, punya uang banyak. Otomatis caleg lain harus sedikit mengimbangi," terangnya.
Kemudian, faktor lain adalah status dari caleg itu sendiri. Ketika caleg merupakan seorang petahana, maka biaya yang dikeluarkan cenderung dapat ditekan karena sudah lebih dulu dikenal masyarakat.
"Petahan ini tetap keluar uang, tapi tidak seperti caleg baru. Karena selama dia menjabat sudah bawa program ke masyarakat," sambung ketua DPD Perindo Kebumen itu.
Baca Juga: Tampilkan Representasi Perjalanan Seni Hasoe
Biaya politik, kata Bakhrun, sebenarnya juga dapat ditekan dengan strategi tandem politik. Istilah tandem.
Yaitu, jetika para caleg kabupaten, provinsi, dan pusat saling membantu dalam kebutuhan logistik.
"Simbiosis mutualisme lah. Ini efektif, bisa menghemat biaya. Saya pasang gambar sana, sana juga pasang gambar saya," ungkpannya. (fid)