Radar Malioboro - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, merespons video yang menunjukkan dua sandera Israel yang ditahan oleh Hamas.
Video tersebut memicu pernyataan keras dari pemerintah Israel, meski di sisi lain, konflik yang berkepanjangan juga terus memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza.
Dalam pidato yang disampaikan kepada publik, Netanyahu mengungkapkan keterkejutannya setelah menyaksikan video yang menampilkan dua warga Israel yang diklaim masih dalam sanderaan Hamas.
Ia menyebut bahwa dirinya telah menghubungi keluarga keduanya dan menyampaikan dukungan moral atas nama pribadi dan seluruh warga Israel.
Netanyahu menyebut Hamas sebagai “monster” yang memperalat video sandera untuk menyebarkan ketakutan dan propaganda.
“Hamas tidak menginginkan kesepakatan. Mereka ingin menghancurkan kita melalui video-video mengerikan dan kebohongan yang mereka sebar ke seluruh dunia,” ujarnya.
Netanyahu menegaskan bahwa dirinya semakin bertekad untuk membebaskan putra-putra mereka yang diculik, memberantas Hamas, dan memastikan bahwa Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Negara Israel.
“Untuk memastikan bahwa Gaza tidak akan lagi menjadi ancaman bagi Negara Israel,” tegasnya.
Namun, di sisi lain, berbagai laporan internasional justru menunjukkan fakta sebaliknya.
Warga sipil Palestina telah lama menjadi korban dari blokade, serangan udara, dan pembatasan akses yang diberlakukan oleh Israel.
Menurut laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), warga Gaza terus menghadapi kematian, cedera, pengungsian, dan trauma.
Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya permusuhan serta memburuknya kondisi untuk kelangsungan hidup.
Contohnya akses yang memadai terhadap pangan, air bersih, layanan kesehatan, dan tempat tinggal.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Hamas terkait video tersebut maupun pernyataan Netanyahu.
Sementara itu, tekanan internasional terus meningkat. Kedua pihak didorong untuk menghentikan kekerasan dan mencari solusi damai yang berkelanjutan.
(Athifah Dihyan Calysta)
Editor : Iwa Ikhwanudin