Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Driver Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob, Cermin Kegagalan Pemerintah dan Aparat Menangani Penyampaian Aspirasi Publikaspirasi publik

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 29 Agustus 2025 | 20:32 WIB
Dosen IP UMY, pakar civil society, sekaligus Sekretaris UMY Dr Bachtiar Dwi Kurniawan.
Dosen IP UMY, pakar civil society, sekaligus Sekretaris UMY Dr Bachtiar Dwi Kurniawan.

BANTUL - Tragedi tewasnya seorang pengemudi ojek online dalam aksi demonstrasi besar-besaran di Jakarta pada Kamis malam (28/8/2025) lalu, memicu gelombang keprihatinan dan kritik keras.

Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus Sekretaris UMY, Dr Bachtiar Dwi Kurniawan SFilI MPA menilai peristiwa ini mencerminkan kegagalan pemerintah dan aparat dalam menangani penyampaian aspirasi publik.

Ia juga mengecam sikap sejumlah pejabat yang dinilai tidak peka dan justru memperkeruh suasana.

Menurut Bachtiar, dalam negara demokrasi rakyat memiliki hak untuk mengontrol kekuasaan (the people control the leader).

Oleh karena itu, aparat dan pemerintah seharusnya tidak alergi terhadap kritik, melainkan memberi ruang yang layak bagi aspirasi publik.

“Jangan dihindari, jangan menghindar."

"Kalau bisa, hadapi, temui, dan dengarkan apa yang disampaikan rakyat."

"Kalau aspirasi didengar dan diartikulasikan dalam kebijakan publik yang menguntungkan, kenapa tidak?” ujarnya dalam wawancara daring, Jumat (29/9/2025).

Menanggapi adanya korban jiwa, Bachtiar menegaskan bahwa aparat harus bertanggung jawab.

Ia mengecam tindakan represif yang berujung hilangnya nyawa dan menegaskan bahwa permintaan maaf saja tidak cukup.

“Pemerintah dan pemimpin kita perlu belajar bagaimana menangani demonstrasi."

"Ini bukan peristiwa pertama."

"Jangan menunggu ada korban untuk mendengarkan aspirasi,” tegas pakar Civil Society UMY tersebut.

Ia menambahkan, tragedi ini justru mengaburkan isu utama yang diperjuangkan buruh, yakni ketenagakerjaan dan kesejahteraan.

Menurutnya, demonstrasi terjadi karena rakyat menghadapi masalah nyata, seperti meningkatnya PHK dan tekanan ekonomi.

“Penanganan yang keliru justru melencengkan isu ke arah kekerasan."

"Di sisi lain, sikap pejabat yang tidak peka, bahkan mempertontonkan tunjangan fantastis atau bersikap provokatif dengan joget-joget, makin menyayat rasa keadilan masyarakat,” jelasnya.

Bachtiar menegaskan bahwa pejabat publik seharusnya menunjukkan empati dan bermartabat, bukan justru menyinggung perasaan rakyat.

Ia berharap penyampaian aspirasi dapat berjalan damai, jauh dari kekerasan, serta direspons pemerintah dengan terbuka. Menurutnya, masyarakat Indonesia sesungguhnya beradab dan tidak menginginkan kekerasan.

“Pemerintah harus banyak mendengar."

"Jangan sedikit-sedikit merespons dengan cara yang tidak pantas, apalagi menindas rakyat. Berikan bukti, bukan hanya janji,” kata Bachtiar. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Bachtiar Dwi Kurniawan #universitas muhammadiyah yogyakarta #umy #the people control the leader #civil society #Affan Kurniawan Driver Ojol #Ilmu Pemerintahan UMY #aspirasi publik #Ilmu Pemerintahan