Dalam aksi tersebut, Aliansi Perempuan Indonesia menghadirkan juru bahasa isyarat, memastikan penyampaian aspirasi juga dapat dimengerti oleh teman tuli atau yang memiliki keterbatasan pendengaran.
Sebagai bentuk inklusivitas bagi semua peserta aksi, terutama untuk mereka dari komunitas disabilitas, setiap orasi dari mobil komando diterjemahkan secara langsung oleh penerjemah ke dalam bahasa isyarat.
Peserta aksi memakai pakaian bernuansa pink dan hitam, melambangakan solidaritas dan juga keberanian dalam bersuara.
Uniknya, peserta aksi juga membawa sapu lidi, yang menggambarkan “bersih-bersih” terhadap ketidakadilan dan kekerasan di negara Indonesia.
"Kita akan menyapu seluruh penjahat demokrasi. Kita akan menyapu segala bentuk kekerasan," kata salah seorang orator.
Selain membawa sapu lidi, peserta aksi juga membentangkan poster-poster, flyer yang berisikan protes dan juga tuntutan untuk pemerintah Indonesia.
Banyak poster dan flyer yang didesain dengan unik, menghadirkan estetika bernuansa pink, hijau, serta hitam.
Dalam aksi protes yang bertajuk “Perempuan Melawan Kekerasan Negara” ini membawa sejumlah tuntutan, antara lain:
Dalam satu sesi, peserta aksi mewarnai telapak tangan mereka menggunakan cat berwarna pink maupun hijau, lalu menempelkannya di atas kain hitam dibentangkan. Aksi ini menjadi tanda jejak perlawanan serta suara mereka tak bisa dihapus.
Penulis: Ayu Andayani Saputri