RADAR MALIOBORO – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif tambahan sebesar seratus persen terhadap barang-barang impor dari China yang akan mulai berlaku pada 1 November 2025, atau lebih cepat jika diperlukan.
Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Jumat (10/10/2025).
Ia menyebut kebijakan itu sebagai langkah balasan terhadap tindakan China yang baru-baru ini memperketat kontrol ekspor atas bahan tanah jarang (rare earth) dan teknologi penting untuk industri pertahanan dan elektronik.
“China telah bertindak secara tidak adil terhadap Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Saatnya kita bertindak tegas,” tulis Trump.
Menurut laporan Reuters, tarif baru ini akan diberlakukan di atas bea masuk yang sudah ada. Trump juga mengatakan akan memperluas pembatasan ekspor perangkat lunak dan teknologi penting buatan AS ke China.
Sebagai respons, pemerintah China pada hari yang sama mengumumkan biaya pelabuhan baru (port fees) bagi kapal-kapal yang dimiliki, dioperasikan, dibangun, atau berbendera Amerika Serikat.
Mengutip laporan Associated Press (AP), kebijakan itu akan mulai berlaku pada 14 Oktober 2025, dengan tarif awal sebesar 400 yuan per ton bersih per pelayaran, dan akan meningkat secara bertahap hingga 1.120 yuan per ton pada tahun 2028. Setiap kapal hanya dapat dikenai biaya hingga lima kali per tahun.
Kementerian Transportasi China menyebut kebijakan tersebut sebagai “tindakan balasan yang sah terhadap praktik diskriminatif Amerika Serikat yang merugikan industri pelayaran China.”
Pengumuman Trump langsung mengguncang pasar keuangan Amerika Serikat. Trump juga menyinggung kemungkinan membatalkan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela forum APEC mendatang.
“Tidak ada alasan untuk bertemu dalam situasi seperti ini,” katanya kepada wartawan di Washington.
Sementara itu, analis menilai langkah tarif 100% ini dapat memperburuk ketegangan dagang AS dan China yang sebelumnya sempat mereda, sekaligus memicu kenaikan harga barang impor di pasar domestik Amerika.
“Jika diberlakukan penuh, kebijakan ini berisiko mempercepat inflasi dan memperlambat rantai pasok global, terutama untuk sektor teknologi tinggi,” kata analis perdagangan dari Reuters.
China baru-baru ini memperluas kontrol ekspor atas material tanah jarang dan teknologi pemrosesan magnetik, bahan penting untuk industri kendaraan listrik, semikonduktor, dan sistem pertahanan.
Kebijakan ini dinilai sebagai upaya Beijing mempertahankan pengaruhnya dalam rantai pasok global, sementara Washington berusaha mengurangi ketergantungan pada impor bahan strategis dari China.
Data Reuters menunjukkan, impor kontainer AS dari China turun 22,9% secara tahunan pada September 2025, seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan antara kedua negara.
(Maulina)
Editor : Iwa Ikhwanudin