RADAR MALIOBORO – Dunia jurnalistik kembali berduka. Saleh Aljafarawi, jurnalis muda yang dikenal karena liputannya dari garis depan selama konflik Gaza, tewas tertembak pada Minggu (12/10/2025) di kawasan Sabra, Kota Gaza, hanya tiga hari berselang setelah gencatan senjata antara Hamas dan Israel mulai berlaku.
Menurut laporan Al Jazeera, Saleh ditembak saat meliput bentrokan bersenjata yang pecah antara pasukan keamanan Hamas dan kelompok bersenjata asal Dogmus yang disebut berafiliasi dengan Israel.
Bentrokan terjadi saat pasukan keamanan Hamas melakukan pengepungan terhadap kelompok bersenjata di wilayah Sabra, bagian selatan Kota Gaza.
Dalam insiden itu, Saleh dilaporkan sempat hilang selama beberapa jam sebelum jasadnya ditemukan tergeletak di belakang sebuah truk, dengan masih mengenakan rompi biru bertuliskan “PRESS.”
Menurut laporan TRT World, jurnalis 28 tahun itu terkena tujuh tembakan dalam insiden tersebut.
Kementerian Dalam Negeri Gaza menyatakan bahwa kelompok bersenjata tersebut merupakan bagian dari milisi yang “bekerja sama dengan pendudukan Israel” dan menembaki warga sipil yang sedang berusaha kembali ke rumah mereka setelah gencatan senjata, dikutip dari Al Jazeera.
Namun, hingga kini belum ada pihak yang secara resmi mengaku bertanggung jawab atas penembakan tersebut.
Saleh Aljafarawi dikenal luas di kalangan publik Palestina dan dunia sebagai jurnalis lapangan sekaligus figur media sosial dengan jutaan pengikut. Dalam beberapa bulan terakhir, diketahui beberapa akun media sosialnya sempat ditangguhkan karena aktivitas pelaporannya dari zona konflik.
Lahir pada 22 November 1997 di Kota Gaza, Saleh mulai aktif sebagai jurnalis dan konten kreator sekitar tahun 2019. Namanya mulai dikenal dunia sejak 2023, ketika ia mengunggah liputan-liputan langsung dari lokasi serangan udara dan kamp pengungsian melalui akun media sosialnya. Gaya pelaporannya yang menyentuh namun optimis menjadikannya salah satu suara paling menonjol dari Gaza di mata dunia.
Meskipun populer, media Israel sempat menudingnya sebagai simpatisan Hamas dan menuduhnya “memanfaatkan tragedi untuk ketenaran pribadi.” Ia bahkan mendapat julukan “Mr. FAFO” singkatan dari “F*** Around and Find Out” di sejumlah forum media sosial pro-Israel.
Namun, bagi banyak warga Gaza dan para pendukung Palestina di seluruh dunia, Saleh adalah simbol keberanian jurnalis muda yang tetap bertahan di tengah perang tanpa perlindungan apa pun.
Tiga hari sebelum insiden, beredar video Saleh berkeliling jalanan Gaza pada malam hari untuk menyebarkan kabar gencatan senjata tanpa akses listrik maupun internet.
Banyak video Saleh yang juga dibagikan ulang oleh netizen di berbagai media sosial. Salah satu video lamanya dari tahun 2023, saat ia menghibur seorang bayi yang selamat dari serangan udara Israel, juga kembali beredar luas dan dibanjiri ungkapan belasungkawa.
Kementerian Media Gaza mengecam keras pembunuhan Saleh dan menyebut insiden itu sebagai “serangan terhadap kebebasan pers dan suara rakyat Palestina.” Dalam pernyataannya, pihak kementerian menyerukan penyelidikan independen atas kasus ini serta mendesak perlindungan lebih besar bagi jurnalis yang bekerja di lapangan.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 270 jurnalis dan pekerja media dilaporkan tewas di Jalur Gaza. Kematian Saleh di hari ketiga gencatan senjata menunjukkan beratnya risiko yang dihadapi mereka yang berupaya memberitakan situasi di tanah kelahirannya. Ia gugur di tempat yang setiap hari menjadi berita yang ia tulis.
(Maulina)
Sumber: Beragam sumber
Editor : Iwa Ikhwanudin