Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Ribuan Orang Terjebak di El Fasher, Sudan, Kelaparan Massal Mengancam

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 16 Oktober 2025 | 01:27 WIB
Pemandangan El Fasher, Darfur (2009). Kini, kota tersebut dikepung pasukan RSF lebih dari 500 hari, ribuan warga terjebak tanpa bantuan kemanusiaan. (Wikimedia Commons/Public Domain)
Pemandangan El Fasher, Darfur (2009). Kini, kota tersebut dikepung pasukan RSF lebih dari 500 hari, ribuan warga terjebak tanpa bantuan kemanusiaan. (Wikimedia Commons/Public Domain)

RADAR MALIOBORO – Ribuan warga sipil masih terjebak di kota El Fasher, Darfur Utara, Sudan, di tengah pengepungan panjang oleh pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF).

Dikutip dari The Guardian, sekitar 250.000-260.000 orang masih bertahan di kota yang dikepung sejak Mei 2023. Selama lebih dari 500 hari, RSF menutup seluruh akses darat dan membatasi pasokan makanan serta obat-obatan.

Lebih dari 90 persen rumah di El Fasher dilaporkan rusak atau dijarah. Sekitar 75 persen warga mengatakan mereka jarang atau tidak pernah memperoleh makanan, dan setengah dari populasi kesulitan mengakses air bersih. Fasilitas medis juga hampir seluruhnya lumpuh akibat serangan udara.

Dalam laporan PBB yang dikutip AP News, sedikitnya 53 warga sipil tewas dalam rentang 3-5 Oktober 2025 ketika RSF melancarkan serangan drone dan artileri ke kamp pengungsian Zamzam serta wilayah sekitar kota.

Serangan pada 9 Oktober juga menghantam area pemukiman dan menewaskan sedikitnya 57 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, menyerukan gencatan senjata segera dan pembukaan bantuan kemanusiaan sebelum terjadi bencana kelaparan besar-besaran.

Upaya diplomatik untuk membuka akses bantuan hingga kini gagal. Pasukan pemerintah Sudan hanya mampu melakukan pengiriman bantuan terbatas melalui udara pada 10-12 Oktober, yang dinilai jauh dari cukup.

Kondisi semakin memburuk dari hari ke hari. UNICEF memperingatkan bahwa El Fasher telah menjadi “pusat penderitaan anak-anak” di Sudan. UNICEF mencatat lonjakan kasus malnutrisi akut, khususnya di kalangan anak-anak di bawah lima tahun dan ibu menyusui.

Konflik di Sudan sendiri terjadi sejak April 2023, ketika pertempuran pecah antara militer sudan (SAF) dan RSF di ibu kota Khartoum, lalu meluas ke wilayah barat, termasuk Darfur. Sejak itu, lebih dari 10 juta orang terpaksa mengungsi dan ribuan tewas akibat konflik yang terus berlanjut.

PBB memperingatkan bahwa jika pengepungan El Fasher tidak segera diakhiri, kota tersebut berpotensi mengalami bencana kelaparan massal dalam beberapa minggu mendatang.

Sementara itu, dalam laporan yang dirilis pada Rabu (15/10/2025) oleh Independent Commission for Aid Impact (ICAI), pemerintah Inggris mendapat pujian karena menjadikan krisis Sudan sebagai prioritas dan menggandakan bantuan menjadi lebih dari £230 juta pada tahun lalu.

(Maulina)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#sudan #paramiliter #El Fasher #perang