Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Protes Soal Kepemimpinan Trump, Jutaan Warga AS Turun ke Jalan dalam Aksi “No Kings”

Iwa Ikhwanudin • Senin, 20 Oktober 2025 | 15:01 WIB
Suasana aksi No Kings di Chicago, Sabtu (18/10/2025). (X/johncusack)
Suasana aksi No Kings di Chicago, Sabtu (18/10/2025). (X/johncusack)

RADAR MALIOBORO – Jutaan warga Amerika Serikat turun ke jalan pada Sabtu (18/10/2025) dalam aksi protes nasional bertajuk “No Kings,” yang digelar di seluruh 50 negara bagian.

Dikutip dari The Guardian, demonstrasi ini diorganisir oleh koalisi aktivis sipil, serikat pekerja dan kelompok advokasi kebebasan sipil untuk menolak apa yang mereka anggap sebagai kecenderungan otoriter dalam pemerintahan Presiden Donald Trump.

Lebih dari 2.600 hingga 2.700 aksi dilangsungkan di kota besar, kota kecil hingga daerah pinggiran di seluruh negeri.

Di New York lebih dari 100.000 orang dilaporkan berkumpul secara damai di Manhattan dan seluruh lima borough. Kepolisian setempat menyebut tak ada penangkapan terkait aksi tersebut. 

Sementara di Chicago, ribuan peserta memadati Grant Park dan bagian lain kota tersebut sebagai bagian dari gerakan.

Sumber Time melaporkan bahwa penyelenggara menyebut bahwa akar aksi ini adalah kekhawatiran serius terhadap kebijakan pemerintahan Trump, termasuk penggunaan pasukan Garda Nasional dan aparat federal di kota-kota domestik, razia imigrasi agresif tanpa prosedur transparan, pengawasan digital massal terhadap demonstran, dan upaya menekan kebebasan pers dan institusi demokrasi.

Mengenai hal tersebut, dalam sebuah wawancara, Trump sempat menentang penggambaran dirinya sebagai calon raja oleh para penyelenggara protes.

“Mereka menyebut saya sebagai raja. Saya bukan raja,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Suasana di lapangan dilaporkan berlangsung damai dan bahkan bernuansa festival. Sejumlah peserta bahkan mengenakan kostum unik seperti katak dan ayam. Selain itu, hampir seluruh peserta aksi membawa poster dan spanduk berwarna-warni, banyak di antaranya menampilkan gambar atau sindiran terhadap Trump.

Meski begitu, dalam beberapa lokasi seperti Portland dan Los Angeles aparat diberi wewenang untuk menetapkan status “unlawful assembly” dan menggunakan gas air mata ketika terjadi ketegangan kecil.

Partai Republik secara umum memilih untuk tidak banyak berkomentar secara terbuka pada hari aksi, dengan hanya sedikit tokoh seperti Sprecher Dewan Mike Johnson yang sebelumnya menyebut aksi sebagai “hate America rally.”

Sebaliknya, banyak tokoh pendukung aksi datang dari kelompok serikat pekerja besar seperti Service Employees International Union (SEIU) dan American Federation of Teachers (AFT) yang ikut mendukung penyelenggaraan gerakan. 

Para pengamat melihat bahwa aksi “No Kings” ini adalah tren baru dalam protes politik AS, di mana warga biasa juga ikut terlibat dalam aksi, bukan hanya aktor politik. Semuanya menyuarakan kekhawatiran atas pergeseran norma demokrasi dan konsentrasi kekuasaan eksekutif.

(Maulina)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#donald trump #Terhadap #protes #no kings