RADAR MALIOBORO – Amerika serikat melancarkan dua serangan udara terhadap kapal-kapal di Samudra Pasifik pada Rabu (22/10/2025), menewaskan setidaknya lima orang yang diduga terlibat dalam penyelundupan narkoba.
Departemen Pertahanan AS menyebut kapal-kapal tersebut “diketahui oleh intelijen terlibat dalam jaringan perdagangan narkotika” dan tengah melintas di jalur yang sering digunakan penyelundup. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut operasi itu merupakan bagian dari upaya “memerangi narkoterorisme” di wilayah perairan internasional.
Serangan ini menjadi yang pertama di kawasan Pasifik, setelah sebelumnya operasi serupa dilakukan di Laut Karibia.
Pemerintah Kolombia mengecam keras tindakan militer AS tersebut dan mendesak Washington segera menghentikan operasi serupa. Kementerian Luar Negeri Kolombia menegaskan bahwa AS “harus menghormati norma-norma yang ditetapkan oleh hukum internasional.”
Presiden Kolombia Gustavo Petro menyebut serangan itu sebagai “pembunuhan” dan menuduh Washington melanggar standar hukum internasional
Sejak awal September 2025, militer AS telah melancarkan sedikitnya sembilan serangan terhadap kapal yang diduga terkait perdagangan narkoba di Laut Karibia dan Samudra Pasifik. Total korban jiwa dilaporkan mencapai sekitar 37 orang.
AS awalnya menyatakan bahwa operasi yang diluncurkan pada 2 September tersebut bertujuan untuk menghancurkan kartel narkoba yang beroperasi dari Venezuela.
Trump membenarkan serangan tersebut dengan klaim bahwa AS sedang dalam “konflik bersenjata” melawan pengedar narkoba. Namun, Presiden Venezuela Nicolás Maduro menuduh AS berupaya menggulingkan pemerintahannya.
Operasi berskala besar ini melibatkan kekuatan militer AS, termasuk kapal perusak rudal kendali, jet tempur F-35, kapal selam nuklir, dan sekitar 6.500 personel militer.
Serangan-serangan tersebut memperburuk hubungan antara Amerika Serikat dan Kolombia, dua sekutu dekat yang selama ini bekerja sama dalam operasi antinarkoba dan berbagi informasi intelijen untuk mencegat pengiriman kokain di laut.
Dikutip dari The Guardian, AS seeblumnya memberikan bantuan senilai lebih dari $740 juta (atau £551 juta) kepada Kolombia pada tahun 2023.
Organisasi HAM internasional juga menyerukan penyelidikan independen terhadap siapa sebenarnya yang menjadi target dan bagaimana identifikasi dilakukan, karena ada kekhawatiran kapal nelayan sipil ikut menjadi korban.
AS tengah memfokuskan diri pada pemberantasan narkoba di tengah krisis overdosis yang menewaskan sekitar 100 ribu orang setiap tahunnya, terutama akibat fentanyl dan opioid sintesis yang diproduksi di Tiongkok dan Meksiko, kemudian diselundupkan ke AS melalui perbatasan selatan.
Sementara itu, Kolombia, meskipun jarang memproduksi fentanyl, tetap menjadi produsen kokain terbesar di dunia, dengan penanaman dan produksinya mencapai rekor tertinggi, menurut PBB.
Sebagian besar kokain Kolombia diselundupkan melalui jalur laut Pasifik sebelum diserahkan kepada kartel Meksiko. Sisanya dikirim melalui darat ke Ekuador untuk diekspor lewat kontainer (sering disembunyikan di antara ekspor pisang), atau diselundupkan melalui Karibia, berdasarkan laporan DEA tahun 2019, dikutip dari The Guardian.
Ekuador, meskipun negara tersebut tidak memproduksi kokain, kini telah berkembang menjadi pusat transit utama perdagangan narkoba dalam beberapa tahun terakhir. Selain kokain Kolombia, Ekuador juga menjadi jalur bagi pengiriman narkoba dari Peru dan Bolivia.
Sebagian kecil dari narkoba tersebut diselundupkan menggunakan penerbangan ilegal, seringkali melewati Venezuela, dengan tujuan akhir Meksiko atau Amerika Tengah.
Krisis diplomatik dengan Kolombia, salah satu mitra terpenting AS dalam perang narkoba, berpotensi mengganggu kerja sama militer hingga operasi bersama di masa depan.
(Maulina)
Editor : Iwa Ikhwanudin