RADAR MALIOBORO – Setidaknya 33 warga Palestina tewas dalam serangkaian serangan udara Israel di Gaza, menurut badan Pertahanan Sipil di Kelola Hamas dan pejabat rumah sakit di wilayah itu.
Israel melancarkan serangan itu sebagai respons atas apa yang dikatakan sebagai pelanggaran perjanjian gencatan senjata yang ditengahi AS.
Baca Juga: BMKG Peringatkan Masyarakat soal Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Perairan Indonesia
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menuduh Hamas menyerang tentara Israel di Gaza pada hari Selasa, dan melanggar ketentuan pengembalian jenazah para sandera. Hamas mengklaim “tidak ada hubungannya” dengan serangan itu dan bersikeras berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata.
Pemimpin AS Donald Trump menegaskan “tidak ada” yang akan membahayakan gencatan senjata, tetapi menambahkan bahwa Israel “harus membalas” jika tentaranya menjadi sasaran.
Baca Juga: Art Fun for Children di Bantul: Fasilitasi Kreativitas Anak
Serangan udara Israel menghantam sejumlah wilayah di jalur Gaza, termasuk Kota Gaza, Khan, Younis, dan Beit Lahia, menargetkan rumah, sekolah, dan kompleks perumahan. Tim penyelamat menghadapi kesulitan besar akibat pemboman intens dan minimya peralatan, sementara korban jiwa diperkirakan terus bertambah.
Israel menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas aksi Hamas yang disebut melanggar kesepakatan gencata senjata. Militer Israel melaporkan serangan dari Hamas terjadi di dekat Garis Kuning, batas wilayah yang disepakati. Hamas membantah tuduhan tersebut dan mengecam serangan Israel sebagai pelanggaran terang-terangan.
Baca Juga: Kabar Mengejutkan Angbeen Rishi Resmi Gugat Cerai Adly Fairuz Setelah Lima Tahun Menikah
Ledakan besar terdengar di berbagai titik Gaza, termasuk halaman rumah sakit al-Shiffa. Beberapa warga sipil, termasuk anak-anak dan Perempuan, dilaporkan tewas. Sementara itu, As menyatakan gencatan senjata masih berlaku, meski mengakui kemungkinan adanya bentrokan kecil di lapangan.
Perdana Menteri Israel sebelumnya berjanji akan mengambil Tindakan terhadap Hamas setelah kelompok tersebut menyerahkan peti mati berisi jasad yang ternyata bukan milik salah satu dari 13 sandera yang masih ditahan di Gaza. Hasil forensic menunjukkan jasad itu milik Ofir Tzarfati, sandera yang telah ditemukan tewas pada akhir 2023, dan dianggap sebagai perlanggaran gencatan senjata.
Baca Juga: Ullen Sentalu, Museum Seni Rupa yang Menyimpan Pesona Budaya Jawa
Militer Israel merilis rekaman drone yang menunjukkan dugaan penguburan jasad secara sengaja oleh Hamas, lalu berpura-pura menemukannya di hadapan Palang Merah. Hamas membantah tuduhan tersebut dan menyebutkan sebagai upaya Israel menciptakan alasan untuk serangan untuk serangan baru.
Palang Merah Internasional menyatakan bahwa mereka hadir atas permintaan Hamas dan tidak mengetahui adanya jasad yang telah ditempatkan sebelumnya. Mereka mengecam insiden tersebut sebagai manipulasi yang merusak kepercayaan terhadap proses kemanusiaan dan perjanjian gencatan senjata.
Baca Juga: Rekomendasi Lima Bakso Lezat di Jogja yang Cocok Dinikmati Saat Musim Hujan
Perjanjian gencatan senjata yang dimediasi AS, Mesir, Qatar, dan Turki merupakan bagian awal dari rencana perdamaian Gaza. Hamas dijadwalkan mengembalikan 48 sandera dalam 72 jam sejak 10 Oktober.
Hingga 13 Oktober, 20 sandera Israel dibebaskan dengan imbalan lebih dari 1.900 tahanan Palestina dan Gaza. Israel juga menyerahkan 195 jenazah warga Palestina sebagai balasan atas 15 jenazah sandera, termasuk dua warga asing.
Baca Juga: Empat Kafe Hits di Kaliurang, Nongkrong Asyik di Tengah Udara Sejuk Lereng Merapi
Hamas mengklaim kesulitan menemukan jenazah karena perubahan modern dan kematian pengubur. Namun, Israel menegaskan Hamas mengetahui lokasi semua jasad. Sebagian besar sandera tewas merupakan korban penculikan 7 Oktober 2023, yang memicu serangan balasan Israel dan menewaskan lebih dari 68.000 orang di Gaza.
(Hanifah Okta)