RADAR MALIOBORO – Setidaknya terdapat tujuh orang tewas setelah sebuah kapal yang membawa migran tanpa dokumen tenggelam di dekat perbatasan antara Thailand dan Malaysia.
Tiga belas orang telah diselamatkan tetapi ratusan lainnya hilang, mereka termasuk di antara kelompok 300 orang, yang sebagian besar adalah warga Rohingya, yang meninggalkan negara begian Rakhine yang miskin di Myanmar dua minggu lalu dengan kapal yang lebih besar sebelum berpindah ke perahu-perahu yang lebih kecil, kata seorang pejabat maritim Malaysia.
Kapal yang terbalik itu diduga tenggelam di dekat pulau resor Langkawi, kata Penjaga Pantai Malaysia. Upaya penyelamatan telah memasuki hari kedua, dengan area pencarian diperluas dari 170 menjadi 256 mil laut persegi. Otoritas maritim Malaysia memperkirakan pencarian akan berlangsung selama tujuh hari.
Jenazah yang ditemukan di perairan pada hari Minggu diketahui merupakan seorang Perempuan dari etnis Rohingya, menurut laporan kantor berita resmi Malaysia, Bernama.
Dari total 13 orang yang berhasil diselamatkan, 11 di antaranya merupakan warga Rohingya dan dua lainnya berasal dari Bangladesh.
Kapal yang tenggelam tersebut diperkirakan mengangkut sekitar 70 orang. Namun, otoritas Malaysia menyatakan bahwa keberadaan kapal lain yang membawa sisa migran masih belum dapat dipastikan hingga Senin.
Etnis Rohingya, yang mayoritas beragama Islam, merupakan salah satu kelompok minoritas di Myanmar yang didominasi oleh pemeluk Buddha. Sayangnya, mereka tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Myanmar.
Sejak Agustus 2017, operasi militer yang brutal di Myanmar telah memaksa ratusan ribu warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Namun, kondisi pengungsian yang penuh tekanan dan minim harapan di sana mendorong sebagian dari mereka untuk menempuh perjalanan laut yang berisiko tinggi menuju Malaysia, negara berpenduduk mayoritas Muslim yang dianggap lebih aman.
Menurut pejabat setempat, banyak dari para migran ini rela membayar lebih dari $3.000 untuk bisa menyeberang menggunakan kapal.
Sayangnya, kapal-kapal yang digunakan umumnya berukuran kecil dan sempit, tanpa fasilitas dasar seperti air bersih dan sanitasi. Tak semua perjalanan berakhir selamat, sebagian migran tewas terdampar di laut, sementara lainnya ditangkap atau dipulangkan paksa sebelum mencapai tujuan.
(Hanifah Okta)
Editor : Iwa Ikhwanudin