Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Wanita Tua Palestina Menangis Haru: Jangan Pernah Tinggalkan Gaza, Meski Tinggal di Tenda, Kisah Haru Pengungsi Kembali Lewat Rafah

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 13 Februari 2026 | 08:42 WIB
Seorang wanita tua kembali ke Gaza. Tanah kelahirannya.
Seorang wanita tua kembali ke Gaza. Tanah kelahirannya.

RADAR MALIOBORO - Suara tangis haru dan pelukan erat keluarga memenuhi suasana di Jalur Gaza selatan. Seorang wanita lanjut usia Palestina baru saja melangkah masuk ke tanah kelahirannya melalui penyebrangan Rafah, setelah berbulan-bulan terpisah akibat konflik berkepanjangan.

Dalam video yang viral di media sosial, nenek tersebut terlihat menangis sembari berpesan penuh makna kepada sesama warga Palestina:  

“Jangan pernah meninggalkan Gaza, meskipun Anda tinggal di tenda, jangan pernah tinggalkan Gaza.”

Pesan itu disampaikan tepat setelah ia tiba di Gaza pada malam hari, sebagaimana diabadikan akun @SoftWarNews di platform X (12 Februari 2026). Kata-katanya menjadi simbol keteguhan dan cinta tanah air di tengah penderitaan panjang akibat genosida yang diklaim telah menewaskan lebih dari 72.000 jiwa sejak Oktober 2023, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza.

Kedatangan sang nenek termasuk dalam gelombang kedelapan (batch ke-8) pengungsi Palestina yang diizinkan kembali ke Gaza sejak penyebrangan Rafah dibuka secara terbatas pada 2 Februari 2026. Pembukaan itu merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi internasional, meski masih dibatasi ketat oleh otoritas Israel dan Mesir—hanya sekitar 50 orang per hari yang boleh masuk.

Banyak pengungsi yang kembali adalah warga yang sempat berobat atau mengungsi ke Mesir. Mereka harus melewati pemeriksaan berlapis, termasuk interogasi panjang, pengikatan tangan, dan penutupan mata oleh pasukan Israel—seperti diceritakan sejumlah perempuan Palestina kepada Reuters dan Al Jazeera.

Hingga pertengahan Februari 2026, ratusan warga telah kembali, meski jumlahnya masih jauh dari kebutuhan.

Sementara itu, bantuan kemanusiaan dan evakuasi medis tetap terbatas. UNRWA melaporkan hampir 90% bangunan pendidikan di Gaza hancur atau rusak parah, sementara ratusan ribu warga masih hidup di tenda pengungsian.

Pesan sang nenek itu langsung menggugah banyak netizen Indonesia, termasuk di Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang selama ini aktif menyuarakan solidaritas untuk Palestina melalui aksi damai dan donasi.

“Kisah ini mengingatkan kita bahwa tanah air adalah segalanya, bahkan di tengah reruntuhan dan tenda,” tulis salah satu warganet di kolom komentar video tersebut.

Konflik di Gaza masih berlanjut dengan laporan tembakan artileri Israel di pinggiran Rafah dan korban jiwa terus bertambah.

Meski demikian, momen reuni keluarga dan kepulangan seperti ini menjadi secercah harapan bagi rakyat Palestina yang bertahan. (iwa) 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#genosida israel #pengungsi gaza #genosida #pengungsi palestina