Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Ricuh Demo di Mapolda DIY Sleman: Massa Jebol Pagar, Teriak Pembunuh, Tiga Mahasiswa Sempat Diamankan, Protes Kematian Pelajar Maluku

Editor Content • Rabu, 25 Februari 2026 | 11:59 WIB

Pengunjuk rasa sempat menggelar salat ghoib di depan Mapolda DIY, Selasa malam (24/2/2026).
Pengunjuk rasa sempat menggelar salat ghoib di depan Mapolda DIY, Selasa malam (24/2/2026).

SLEMAN – Malam Selasa (24 Februari 2026) menjadi malam yang panas di depan Markas Kepolisian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Mapolda DIY) di Jalan Ring Road Utara, Kabupaten Sleman.

Ratusan massa yang terdiri dari mahasiswa berbagai kampus serta elemen masyarakat umum berkumpul sejak sore menjelang maghrib, membawa kemarahan atas kematian tragis seorang pelajar berusia 14 tahun di Tual, Maluku Tenggara.

Aksi yang awalnya bertujuan menyampaikan aspirasi secara damai itu berubah menjadi kericuhan hebat ketika massa berhasil merobohkan pagar besi sisi timur markas polisi, mencorat-coret tembok dengan kata-kata kecaman keras, serta melemparkan petasan dan kembang api yang menimbulkan suara ledakan keras di sekitar lokasi.

Tragedi yang memicu gelombang protes ini bermula dari insiden di Maluku beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada Kamis (19 Februari 2026).

Seorang siswa MTs bernama Arianto Tawakkal tewas setelah diduga dianiaya oleh oknum anggota Brimob Polda Maluku berinisial Bripda Mesias Siahaya.

Korban yang masih berusia 14 tahun itu dikabarkan dipukul menggunakan helm taktikal saat sedang mengendarai sepeda motor, hingga akhirnya meninggal dunia meski sempat dirawat di rumah sakit setempat.

Pelaku telah dipecat dari dinas kepolisian, namun hal tersebut tidak meredam amarah publik yang menilai kasus ini sebagai bukti kegagalan reformasi di tubuh Polri serta pola kekerasan aparat yang berulang.

Di Sleman, massa mulai memadati area depan Mapolda DIY sekitar pukul 18.00 WIB.

Mereka memblokir arus lalu lintas di Jalan Ring Road Utara, khususnya arah barat ke timur, sehingga akses menuju Condongcatur dan sekitarnya ditutup total.

Teriakan “Polisi pembunuh!” serta “All Cops Are Bastard!” bergema keras, disertai yel-yel kecaman terhadap institusi kepolisian.

Beberapa peserta aksi bahkan melaksanakan salat gaib untuk korban kekerasan aparat, kemudian melanjutkan salat Isya berjamaah di lokasi.

Situasi semakin memanas pasca salat, ketika sebagian massa mendorong barikade, memukul-mukul pagar hingga roboh, dan melontarkan benda-benda ke arah markas polisi.

Kabidhumas Polda DIY Kombes Pol Ihsan menjelaskan bahwa petugas mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis tanpa menggunakan gas air mata maupun senjata api.

Meski demikian, tiga mahasiswa sempat diamankan untuk dimintai keterangan.

Ketiganya kemudian diserahkan kembali ke pihak rektorat kampus masing-masing sekitar pukul 22.30 WIB setelah koordinasi dilakukan.

Polda DIY juga menyatakan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Arianto Tawakkal dan menegaskan komitmen menjaga stabilitas kamtibmas bersama masyarakat demi kelancaran pariwisata serta perekonomian di wilayah DIY.

Sekitar pukul 20.30 WIB, situasi mulai mereda setelah kelompok warga sekitar yang mengatasnamakan “Jaga Warga” turun tangan membubarkan massa sambil berteriak menjaga ketentraman Yogya.

Massa akhirnya bubar, arus lalu lintas kembali normal menjelang tengah malam, dan Rabu pagi (25 Februari 2026) kondisi di sekitar Mapolda DIY sudah kondusif kembali.

Tidak ada laporan korban jiwa atau luka berat dari insiden tersebut.

Aksi ini menjadi sorotan nasional karena mencerminkan akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap penanganan kasus kekerasan oleh oknum aparat.

Salah seorang peserta aksi menyatakan bahwa gerakan ini bukan sekadar protes atas satu kasus, melainkan ekspresi kemarahan atas penyumbatan aspirasi dan kegagalan reformasi di kepolisian.

Polda DIY memasang kembali spanduk komitmen bersama warga yang sempat disobek, sembari mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap provokasi serta menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kekerasan aparat #Tual Maluku Utara #kekecewaan #Arianto Tawakkal #masyarakat