Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Iran Tegaskan Teknologi Nuklir Tak Bisa Dihapuskan Meski Ada Tekanan AS dan Ancaman Serangan

Editor Content • Rabu, 25 Februari 2026 | 12:15 WIB

Photo
Photo

RADAR MALIOBORO – Kepala Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, menegaskan bahwa teknologi nuklir Iran tidak dapat dihilangkan meskipun ada tekanan dari Amerika Serikat dan komunitas internasional.

Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan regional yang semakin memanas, termasuk ancaman serangan militer terhadap fasilitas nuklir Teheran.

Dalam pernyataan yang viral di platform X (sebelumnya Twitter), Mousavi menyatakan bahwa Iran siap menghadapi segala bentuk agresi, termasuk jika terjadi serangan dari AS.

Ia menekankan bahwa program nuklir merupakan hak kedaulatan Iran sesuai Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), dan teknologi tersebut akan tetap dipertahankan sebagai bentuk pertahanan diri.

Pernyataan ini menjadi sorotan setelah sebuah akun X @imimraan mengajukan pertanyaan langsung kepada Grok (AI dari xAI) mengenai alasan Iran terus memperkaya uranium.

Dalam utas tersebut, Grok menjelaskan bahwa Iran secara resmi memperkaya uranium untuk tujuan sipil, seperti bahan bakar reaktor nuklir Bushehr guna pembangkit listrik, produksi isotop medis, serta mencapai kemandirian siklus bahan bakar nuklir pasca-sanksi pasca-Revolusi 1979.

Namun, tingkat pengayaan hingga 60% yang dilaporkan IAEA pada 2025 memicu kekhawatiran Barat karena melebihi kebutuhan reaktor sipil biasa (3-5%), meskipun masih di bawah level senjata (90%).

Iran menegaskan program ini murni damai dan sebagai respons atas ancaman, termasuk monopoli nuklir Israel serta tekanan militer AS.

Utas X tersebut menunjukkan diskusi hangat di kalangan netizen global, dengan beberapa pengguna mendukung hak Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir sebagai bentuk kedaulatan dan pertahanan terhadap "proxy AS di Timur Tengah".

Sementara itu, pernyataan Mousavi diyakini mencerminkan doktrin "kesabaran strategis" Iran, yang kini bergeser ke postur lebih ofensif guna mencegah serangan potensial.

Situasi ini berlangsung di tengah negosiasi nuklir AS-Iran yang masih deadlock, dengan Presiden AS Donald Trump menuntut "zero enrichment" sebagai syarat utama kesepakatan.

Iran menolak tuntutan tersebut dan menyatakan siap menghadapi konsekuensi apa pun, termasuk uji coba kemampuan nuklir IRGC jika terjadi serangan.

Pakar geopolitik menilai pernyataan ini sebagai sinyal kuat bahwa Iran tidak akan mundur dari program nuklirnya, meski risiko konfrontasi militer dengan AS dan Israel semakin tinggi.

Situasi Timur Tengah diprediksi tetap tegang dalam beberapa minggu ke depan seiring dengan pergerakan militer AS di kawasan Teluk Persia. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Untuk #nuklir #Perjanjian #program #kemanusiaan #iran