Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

John Tobing, Pencipta Lagu Darah Juang Ikon Reformasi 1998, Meninggal Dunia di Usia 60 Tahun

Editor Content • Kamis, 26 Februari 2026 | 13:16 WIB

John Tobing.
John Tobing.

JOGJA – Dunia aktivisme dan musik Indonesia berduka.

Johnsony Maharsak Lumban Tobing, lebih dikenal sebagai John Tobing, pencipta lagu legendaris "Darah Juang" yang menjadi himne perjuangan Reformasi 1998, menghembuskan napas terakhir pada Rabu malam, 25 Februari 2026.

Ia berusia 60 tahun.

Kabar duka ini dikonfirmasi oleh rekan dekatnya, Joko Utomo, serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Arie Sujito.

John Tobing meninggal dunia sekitar pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebelum wafat, John Tobing sempat menjalani perawatan intensif di RSA UGM sejak pagi hari yang sama.

Ia diketahui berjuang melawan komplikasi stroke yang dideritanya sejak Desember 2025, ditambah infeksi pneumonia yang memperburuk kondisinya.

Lagu Darah Juang: Simbol Semangat Perlawanan Mahasiswa 1998

Lahir di Binjai, Sumatera Utara, John Tobing adalah alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1986.

Ia tidak hanya dikenal sebagai musisi, tapi juga aktivis yang aktif di gerakan mahasiswa era akhir Orde Baru.

Lagu "Darah Juang" yang diciptakannya pada 1990-an di lingkungan kampus UGM Yogyakarta, langsung menjadi anthem perlawanan.

Liriknya yang penuh semangat seperti "Kawan kami berjuang membela / Dicap pemberontak, dikejar, ditembak…mati!" menggema di berbagai aksi demonstrasi mahasiswa menuntut reformasi dan tumbangnya rezim Soeharto pada Mei 1998.

Baca Juga: Polres Jombang Gerebek Greenhouse Ganja Hidroponik di Rumah Kontrakan Mojongapit, Sita Barang Bukti Rp 6 Miliar dan Tetapkan 4 Tersangka

Lagu ini sempat dilarang pada masa Orde Baru karena dianggap subversif, namun justru semakin menguatkan posisinya sebagai lagu wajib gerakan mahasiswa hingga kini.

"Darah Juang" masih sering dinyanyikan dalam aksi-aksi protes kontemporer, pemakaman tokoh seperti Pramoedya Ananta Toer, hingga berbagai peringatan Reformasi.

Banyak aktivis dan pegiat HAM menyatakan duka mendalam atas kepergiannya.

Salah satu rekan di X (Twitter) menulis:

"Selamat jalan bung… Terima kasih telah memperkuat dan menjaga perlawanan lewat musik dan khususnya lagu Darah Juang-mu. Rest in Love, John Tobing."

Jenazah Dimakamkan di Prambanan

Menurut informasi dari berbagai sumber, jenazah John Tobing rencananya akan dimakamkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, di wilayah Prambanan, Yogyakarta.

Kepergian John Tobing meninggalkan warisan abadi berupa semangat perjuangan yang terus hidup melalui bait-bait "Darah Juang".

Bagi generasi aktivis muda, lagu ini tetap menjadi pengingat bahwa darah juang rakyat tidak pernah sia-sia.Selamat jalan, Bung John Tobing.

Semangatmu abadi dalam setiap nyanyian perlawanan. Rest in Power. (iwa)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#darah juang reformasi 1998 #John Tobing #reformasi 1998 #john tobing meninggal #reformasi #Darah juang