Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Iran Luncurkan Serangan Rudal ke Israel, Perang AS-Iran Memasuki Hari Keenam! Dampak Ekonomi ke Indonesia: Harga Minyak Melonjak, Indonesia Siap-Siap

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 5 Maret 2026 | 20:53 WIB

Perang Iran vs Israel-Amerika terus berlanjut di hari keenam (5/3/2026).
Perang Iran vs Israel-Amerika terus berlanjut di hari keenam (5/3/2026).

RADAR MALIOBORO - Konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel semakin memanas pada 5 Maret 2026, dengan Iran meluncurkan gelombang rudal ke wilayah Israel. 

Serangan ini memaksa jutaan warga Israel berlindung di bunker, sementara AS dan Israel terus melakukan bombardemen intensif terhadap Tehran. 

Perang yang telah memasuki hari keenam ini tidak hanya mengguncang Timur Tengah, tetapi juga berdampak signifikan terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia yang bergantung pada impor minyak dari kawasan tersebut.

Menurut laporan terbaru, Iran membalas serangan AS dengan menargetkan kapal tanker AS di Teluk Persia, yang menyebabkan gangguan pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. 

Selat Hormuz, jalur vital untuk 20-25% impor minyak mentah Indonesia, ditutup oleh Iran, memicu lonjakan harga minyak dunia hingga mencapai level US$100 per barel. 

Di Tehran, serangan Israel menghancurkan infrastruktur pemerintah, sementara AS mengonfirmasi kematian dua prajuritnya dalam konflik ini. 

Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi ini bertujuan untuk mencegah Iran memproyeksikan kekuatannya ke luar negeri dan mendorong rakyat Iran untuk bangkit melawan pemimpin mereka.

Dampak internasional semakin luas, dengan korban jiwa mencapai lebih dari 80 pelaut Iran akibat serangan torpedo AS terhadap kapal perang IRIS Dena di perairan internasional dekat Sri Lanka. 

Azerbaijan juga melaporkan insiden drone Iran yang melintasi perbatasan, melukai empat orang. 

NATO, meskipun menembak jatuh rudal Iran yang mengarah ke Turki, menyatakan belum ada alasan untuk mengaktifkan Pasal 5 pertahanan bersama. 

Di sisi lain, upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei ditunda karena kekhawatiran serangan lanjutan.

Bagi Indonesia, konflik ini bukan hanya berita jauh di Timur Tengah, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi. 

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia menghadapi risiko kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan inflasi yang lebih tinggi. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah sedang menghitung dampak lonjakan harga minyak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. 

Stok minyak nasional hanya cukup untuk 21 hari, sehingga jika konflik berlarut-larut, harga BBM domestik bisa naik signifikan, memengaruhi transportasi, distribusi barang, dan harga kebutuhan pokok.

Presiden Prabowo Subianto telah memanggil menteri terkait untuk membahas kesiapan pangan dan energi, mengingat Indonesia mengimpor banyak bahan bakar dari Timur Tengah. 

Analis ekonomi seperti Ronny P Sasmita dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution menilai ada dua dampak utama: langsung melalui gejolak harga minyak dan tidak langsung melalui turbulensi pasar keuangan global. 

Di Yogyakarta, wilayah yang bergantung pada pariwisata dan perdagangan kecil seperti di Malioboro, kenaikan harga bahan pokok bisa menekan daya beli masyarakat dan mengurangi kunjungan wisatawan akibat biaya transportasi yang lebih mahal.

Pakar dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof. Anton Agus Setyawan, memperingatkan bahwa konflik ini bisa memukul ekonomi global, termasuk Indonesia, dengan efek negatif yang luas, tidak hanya di Eropa tetapi juga di Asia. (iwa) 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#timur tengah #harga bbm naik #perang teluk #Perang Iran Israel #stok minyak