Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Transit Minyak Selat Hormuz Anjlok 90%, Setara 54 Juta Barel Berhenti dalam 3 Malam, Krisis Energi Global Mengintai?

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 5 Maret 2026 | 23:58 WIB

Video pemetaan lalu lintas kapal yang beredar menunjukkan penurunan tajam arus kapal di Teluk Persia sejak akhir Februari hingga awal Maret 2026.
Video pemetaan lalu lintas kapal yang beredar menunjukkan penurunan tajam arus kapal di Teluk Persia sejak akhir Februari hingga awal Maret 2026.

RADAR MALIOBORO – Lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz mengalami penurunan drastis hingga 90% dalam tiga malam terakhir akibat eskalasi konflik AS-Israel-Iran. 

Data navigasi kapal menunjukkan sekitar 54 juta barel minyak atau setara kapasitas 27 supertanker raksasa terhenti total, memicu kekhawatiran krisis energi dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, kini nyaris lumpuh. 

Berdasarkan data statistik sistem navigasi kapal yang dikutip berbagai sumber internasional termasuk akun X @SoftWarNews, transit minyak melalui selat sempit antara Iran dan Oman itu turun drastis 90% dalam tiga malam terakhir (per 4 Maret 2026).

Volume yang hilang mencapai 54 juta barel, angka yang setara dengan kapasitas muatan 27 kapal supertanker terbesar di dunia. 

Penurunan ini bukan karena penutupan resmi oleh Iran, melainkan karena kepanikan pelaku industri maritim yang menghindari risiko serangan di tengah konflik berkepanjangan.

Video pemetaan lalu lintas kapal yang beredar menunjukkan penurunan tajam arus kapal di Teluk Persia sejak akhir Februari hingga awal Maret 2026. 

Dari ratusan kapal tanker yang biasanya melintas setiap hari, kini hanya segelintir yang berani melanjutkan perjalanan. 

Banyak kapal memilih rute memutar melalui Tanjung Harapan Afrika, menambah waktu tempuh dan biaya logistik secara signifikan.

Analis pasar prediksi Kalshi memperingatkan bahwa Iran memiliki kemampuan teknis dan militer untuk mengganggu navigasi Selat Hormuz selama berbulan-bulan. 

Jika situasi berlanjut, dunia bisa terjerumus ke dalam krisis energi global terparah sepanjang sejarah, dengan harga minyak Brent yang sudah melonjak tajam dan berpotensi menembus level lebih tinggi lagi.

Dampaknya sudah terasa di pasar global:  

Harga minyak dunia melonjak, memicu kenaikan harga BBM di banyak negara termasuk Indonesia.  

Ratusan kapal tanker terjebak atau dialihkan, menyebabkan backlog pasokan energi.  

Negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan yang mengimpor sebagian besar minyak melalui selat ini menjadi yang paling terdampak.

Konflik yang dipicu serangan gabungan AS-Israel terhadap fasilitas di Iran telah membuat perusahaan pelayaran besar menangguhkan operasi di kawasan Teluk Persia. 

Beberapa laporan menyebut adanya serangan drone terhadap kapal tanker, memperburuk ketakutan akan keselamatan maritim.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda de-eskalasi. 

Pemerintah Indonesia dan otoritas energi nasional diminta waspada terhadap potensi lanjutan kenaikan harga BBM nonsubsidi serta dampak inflasi yang lebih luas. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Harga minyak dunia #transit minyak #Krisis energi #Krisis minyak #selat hormuz #krisis Selat Hormuz #iran