TEHERAN – Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas setelah Markas Besar Militer Iran mengeluarkan pernyataan keras menyikapi ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam ultimatum 48 jam yang dikeluarkan Trump, AS mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya tanpa ancaman.
Menurut pernyataan resmi yang disebarkan Konsulat Jenderal Iran di Hyderabad melalui akun X resmi @IraninHyderabad pada Minggu (22/3/2026), sisa waktu tinggal 24 jam bagi dunia internasional untuk mendesak AS menahan diri.
Pernyataan militer Iran tersebut menyebutkan tiga respons tegas jika AS benar-benar menyerang infrastruktur listrik Iran:
Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya hingga pembangkit listrik yang rusak dibangun kembali.
Infrastruktur listrik, energi, dan teknologi informasi Israel menjadi sasaran sah.
Pembangkit listrik di negara-negara Timur Tengah yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS juga akan menjadi target legitim.
Pernyataan ini muncul setelah Trump melalui platform Truth Social menyatakan:
“Jika Iran tidak membuka sepenuhnya Selat Hormuz tanpa ancaman dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menghantam dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar.”
Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20-21% perdagangan minyak dunia, telah mengalami gangguan signifikan sejak konflik AS-Israel-Iran memasuki pekan keempat.
Penutupan total selat ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global yang jauh lebih parah dibandingkan krisis minyak 1970-an, serta mengganggu rantai pasok energi dunia.
Iran menegaskan langkah ini sebagai respons defensif atas agresi yang dianggap melanggar kedaulatan.
Sementara itu, berbagai pihak internasional termasuk negara-negara Teluk dan Eropa memantau ketat perkembangan menjelang batas waktu ultimatum Trump yang berakhir pada Senin malam (23/3/2026) waktu setempat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih terkait pernyataan terbaru markas militer Iran.
Situasi tetap tegang dengan potensi eskalasi yang dapat memengaruhi stabilitas harga BBM dan ekonomi global, termasuk di Indonesia sebagai negara importir minyak. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin