PENTAGON – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas.
Pentagon dilaporkan sedang mempersiapkan pengerahan ribuan pasukan elit 82nd Airborne Division ke wilayah Timur Tengah.
Pasukan yang dikenal sebagai pasukan respons cepat ini bisa diterjunkan ke mana saja dalam waktu kurang dari 18 jam, termasuk untuk operasi rebutan pulau strategis Iran di Selat Hormuz.
Menurut laporan The New York Times dan Reuters, sekitar 2.000 hingga 3.000 prajurit dari Brigade Tempur 82nd Airborne sedang dalam proses pengerahan.
Mereka tiba dengan pesawat angkut berat C-17 Globemaster III.
Beberapa sumber menyebutkan sudah ada puluhan penerbangan sejak pertengahan Maret 2026, meski belum ada konfirmasi resmi jumlah pasti yang telah tiba di pangkalan regional.
Pasukan ini disebut-sebut bisa terlibat dalam operasi untuk mengamankan lalu lintas minyak di Selat Hormuz, yang selama ini terganggu akibat konflik.
Salah satu skenario yang dibahas adalah merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran yang menangani sekitar 90 persen pengapalan minyak mentah negara itu.
Alternatif lain adalah menguasai tiga pulau kecil di pintu masuk selat: Greater Tunb, Lesser Tunb, dan Abu Musa.
Selain pasukan airborne, AS juga mengerahkan helikopter MH-47G dan MH-60M dari Resimen Penerbangan Operasi Khusus Angkatan Darat ke-160 (160th SOAR) menggunakan pesawat C-5M Super Galaxy.
Helikopter ini diduga mendukung pasukan khusus seperti Delta Force untuk misi di sekitar Isfahan, tempat penyimpanan uranium yang diperkaya Iran.
Sejumlah analis menyebut ada opsi negosiasi: AS bisa menahan diri dari merebut Kharg Island jika Iran bersedia menyerahkan kendali atas tiga pulau di Selat Hormuz dan menghentikan ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.
Presiden Donald Trump disebut sedang mempertimbangkan kombinasi tekanan militer dan diplomasi untuk membuka kembali selat tersebut tanpa invasi darat skala besar.
Divisi 82nd Airborne berbasis di Fort Liberty (dulu Fort Bragg), North Carolina, dikenal sebagai Immediate Response Force (IRF).
Mereka terlatih melakukan operasi penerjunan massal, penguasaan wilayah cepat, dan bisa beroperasi mandiri di lingkungan sulit.
Kemampuan ini sangat cocok untuk skenario pulau-pulau kecil atau fasilitas pantai di Teluk Persia.
Pengerahan ini terjadi di tengah Perang Iran 2026 yang sudah memasuki minggu keempat.
Serangan udara gabungan AS-Israel telah menargetkan fasilitas rudal, pertahanan udara, dan infrastruktur nuklir Iran.
Sementara itu, Iran terus meluncurkan rudal dan drone sebagai balasan, termasuk serangan ke beberapa negara tetangga.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dunia.
Gangguan di sana bisa mendorong harga minyak mentah melonjak tajam, yang langsung berdampak pada ekonomi Indonesia sebagai negara pengimpor BBM.
Harga BBM dalam negeri, inflasi, hingga daya beli masyarakat bisa terpengaruh jika konflik berlarut-larut.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus memantau perkembangan dan menyerukan penyelesaian damai.
Warga Indonesia yang berada di Timur Tengah diimbau meningkatkan kewaspadaan.
Hingga berita ini diturunkan, Pentagon belum memberikan komentar resmi soal detail pengerahan.
Semua informasi masih berdasarkan sumber pejabat pertahanan yang tidak disebutkan namanya. Situasi terus berkembang. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin