JAKARTA – Respons pemerintah Indonesia terhadap Operation Epic Fury yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Tehran pada 28 Februari 2026 menuai sorotan tajam.
Serangan presisi tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, namun Jakarta hanya menyampaikan “deep regret” tanpa kecaman langsung terhadap Washington atau Tel Aviv.
Hanya beberapa hari sebelum serangan, tepatnya 19 Februari 2026, Indonesia menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat di Washington.
Pakta dagang yang disebut-sebut sebagai “Golden Era” ini dinilai banyak pihak membatasi ruang gerak politik luar negeri Indonesia, terutama karena ketergantungan ekspor tekstil, alas kaki, dan karet ke pasar AS yang mempekerjakan jutaan pekerja.
Opini yang dimuat Middle East Monitor dan beredar luas di media sosial menyoroti sikap pemerintah yang “sangat hati-hati”.
Kontras dengan itu, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri justru aktif melakukan apa yang disebut “shadow diplomacy”.
Ia mengirim surat duka cita mendalam atas wafatnya Khamenei dan menyampaikan ucapan selamat kepada putranya, Ayatollah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei, yang ditunjuk sebagai pemimpin baru melalui Majelis Ahli pada 10 Maret 2026.
“Gerakan Megawati ini mengingatkan kita pada semangat Konferensi Bandung 1955 dan politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi ciri khas Indonesia,” tulis analis Dr Jannus TH Siahaan dalam opini tersebut.
Di media sosial X (Twitter), ribuan warganet Indonesia, termasuk dari Yogyakarta, menyatakan kekecewaan mendalam.
Banyak yang menyebut pemerintah “antek asing” dan tidak mewakili suara rakyat mayoritas yang solidaritas dengan Iran.
Beberapa komentar keras yang muncul:
“Kami rakyat Indonesia merasa malu pada dunia Islam khususnya rakyat Iran.”
“Pemerintah tidak mewakili rakyat. Mayoritas rakyat Indonesia mengutuk agresi AS-Israel.”
“Ini meninggalkan Dasasila Bandung dan mengkhianati Pembukaan UUD 1945.”
Palang Merah Indonesia (PMI) sendiri telah mengumumkan akan mengirim bantuan obat-obatan kemanusiaan ke Iran, meski situasi di sana masih dilanda ketegangan pasca-serangan.
Penandatanganan ART hanya sembilan hari sebelum Operation Epic Fury membuat banyak pengamat mempertanyakan apakah kepentingan ekonomi dengan AS menjadi faktor utama sikap hati-hati pemerintah Prabowo.
Sektor padat karya Indonesia sangat bergantung pada akses pasar Amerika, sehingga kecaman keras dikhawatirkan berisiko memicu retaliasi dagang.
Di sisi lain, langkah Megawati yang tegas justru mendapat apresiasi dari Dubes Iran untuk Indonesia.
Ia menyerahkan surat secara langsung dan menegaskan komitmen persahabatan antarbangsa serta warisan Bung Karno.
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri RI belum memberikan tanggapan lebih lanjut atas kritik publik yang semakin meluas.
Presiden Prabowo sebelumnya sempat menawarkan diri sebagai mediator dengan siap terbang ke Tehran, namun tawaran itu dinilai banyak kalangan kurang mendapat dukungan luas. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin