Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Iran Ajukan Tuntutan Maksimalis untuk Gencatan Senjata dengan AS: Tutup Basis Militer AS di Teluk Hingga Retribusi Selat Hormuz

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 25 Maret 2026 | 12:15 WIB
Ilustrasi Presiden Amerika Serikat (Donald Trump).
Ilustrasi Presiden Amerika Serikat (Donald Trump).
 
TEHERAN – Iran menyampaikan daftar tuntutan berat sebagai respons terhadap proposal gencatan senjata dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menurut laporan Wall Street Journal yang dikutip media internasional pada Rabu (25/3/2026).
 
Tuntutan tersebut mencakup penutupan seluruh basis militer AS di kawasan Teluk Persia, pencabutan semua sanksi secara tanpa syarat, penghentian operasi Israel terhadap Hizbullah, serta pembentukan kerangka baru di Selat Hormuz yang memungkinkan Iran memungut biaya transit bagi kapal-kapal yang melintas.
 
Perang yang telah berlangsung selama 26 hari antara AS-Israel melawan Iran ini telah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel dan menjebak lebih dari 340 tanker minyak/gas di perairan Teluk Persia.
 
Kondisi ini memicu kekhawatiran krisis energi global, termasuk di Indonesia yang bergantung pada pasokan minyak impor.
 
 
Menurut sumber yang dikutip WSJ, tuntutan Iran ini bersifat maksimalis dan mencerminkan keyakinan Teheran bahwa mereka memiliki leverage kuat dari pertahanan asimetris serta dampak ekonomi yang ditimbulkan terhadap Barat.
 
Iran bahkan menuntut jaminan keamanan dan kompensasi kerusakan akibat serangan udara intensif selama tiga pekan terakhir.
 
Reaksi dan AnalisisBeberapa analis menyebut tuntutan ini sebagai strategi negosiasi pintar.
 
Dengan meminta "semua", Iran berharap bisa mendapatkan setidaknya 50 persen dari yang diinginkan, seperti keringanan sanksi dan pengakuan atas peran strategisnya di Selat Hormuz – jalur vital yang mengangkut sekitar 20 persen minyak dunia.
 
Namun, banyak pihak di AS dan sekutunya menganggap tuntutan tersebut "delusional" dan sulit diterima.
 
Penutupan basis seperti Al Udeid di Qatar atau armada kelima di Bahrain berarti mengakhiri arsitektur militer AS di Timur Tengah selama empat dekade.
 
Sementara itu, Trump disebut-sebut lebih memilih memperpanjang negosiasi untuk memulihkan stok senjata, merawat armada, dan merencanakan langkah selanjutnya daripada langsung menerima kesepakatan.
 
 
Mediator dari Turki, Mesir, dan Pakistan mendorong pertemuan AS-Iran di Islamabad dalam waktu 48 jam ke depan.
 
Namun, jurang antara proposal 15 poin AS dengan tuntutan Iran terlihat sangat lebar.
 
Dampak bagi Indonesia dan Ekonomi GlobalBagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz berpotensi meningkatkan harga BBM domestik dan inflasi.
 
Pemerintah diimbau memantau ketat pasokan energi serta mempercepat diversifikasi sumber minyak dari Timur Tengah.
 
Konflik ini juga menjadi pelajaran geopolitik: bagaimana satu chokepoint strategis seperti Selat Hormuz bisa mengguncang ekonomi dunia hanya dalam hitungan hari.
 
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih atas tuntutan Iran.
 
Trump sebelumnya menyatakan tidak menginginkan gencatan senjata saat "masih melumpuhkan lawan", meski pintu dialog tetap terbuka. (iwa)
 
(Sumber: Wall Street Journal dan utas media sosial terkait yang viral pada 25 Maret 2026)
Editor : Iwa Ikhwanudin
#donald trump #AS Israel Iran #gencatan senjata #iran