Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Pete Hegseth Klaim Iran 'Dihapus dari Muka Bumi' dan Dikalahkan Total, tapi Serangan Balasan Terus Berlanjut di Erbil

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 25 Maret 2026 | 15:32 WIB

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth kembali membuat pernyataan bombastis soal konflik dengan Iran.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth kembali membuat pernyataan bombastis soal konflik dengan Iran.

WASHINGTON, 25 Maret 2026 – Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth kembali membuat pernyataan bombastis soal konflik dengan Iran.

Dalam briefing di Gedung Putih bersama Presiden Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance, Hegseth mengklaim Iran mengalami kekalahan paling telak sepanjang sejarah.

"Never in history has a country been defeated as Iran has... We wiped it off the face of the earth, and then it was defeated," ujar Hegseth seperti yang beredar luas di media sosial.

Pernyataan ini langsung menuai reaksi keras di dunia maya.

Banyak netizen mempertanyakan klaim tersebut, mengingat Iran masih mampu melancarkan serangan balasan.

Hanya beberapa jam setelah pernyataan Hegseth, kelompok pro-Iran dilaporkan menyerang hotel di Erbil, Irak utara, yang diduga menampung kontraktor dan personel militer AS.

Serangan drone tersebut menewaskan beberapa kontraktor AS dan memicu kebakaran hebat di gedung tinggi.

Konflik AS-Israel melawan Iran yang dimulai sejak akhir Februari 2026 ini memang telah merusak banyak infrastruktur militer Tehran.

AS mengklaim telah menghantam lebih dari 7.000 target, termasuk basis rudal, angkatan laut, dan industri pertahanan Iran.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan Iran masih sanggup memblokir Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia, serta melanjutkan serangan proxy melalui milisi di Irak dan kawasan sekitar.

Baru-baru ini, pada 23 Maret 2026, Presiden Trump bahkan menunda rencana serangan besar terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari.

Penundaan ini dilakukan setelah adanya "pembicaraan produktif" dengan pihak Iran, meski Tehran membantah sedang bernegosiasi.

Baca Juga: Gel Hydroalkohol Swiss yang Selamatkan 8 Juta Nyawa per Tahun: Penemuan dari Rumah Sakit Fribourg dan Geneva yang Digunakan Saat Pandemi COVID-19

Trump sempat memberi ultimatum agar Selat Hormuz dibuka kembali, atau AS akan "menghancurkan" fasilitas energi Iran.

Video briefing Hegseth yang dibagikan akun @TMT_arabic di X (Twitter) langsung viral dengan jutaan views.

Banyak komentar yang menyebut pernyataan itu sebagai "propaganda" atau "omong kosong", karena Iran disebut "dihapus dari muka bumi" tapi masih aktif melawan.

Beberapa pengguna bahkan menyinggung kondisi Hegseth yang tampak kelelahan atau "mabuk" saat berbicara.

Dari sisi Indonesia, konflik ini berdampak langsung pada harga minyak dunia dan stabilitas ekonomi global.

Selat Hormuz yang diblokir Iran bisa memicu kenaikan harga BBM di Tanah Air jika berlarut-larut.

Pemerintah Indonesia diharapkan terus memantau perkembangan dan menjaga kepentingan nasional di tengah ketegangan Timur Tengah.

Konflik ini masih berlangsung tanpa tanda-tanda akhir yang jelas.

Sementara AS dan Israel mengklaim kemenangan telak, Iran melalui serangan balasan dan blokade strategis menunjukkan ketahanannya.

Dunia internasional kini menanti apakah pembicaraan yang disebut Trump akan membuahkan gencatan senjata, atau justru eskalasi baru akan terjadi setelah batas waktu lima hari berakhir. (iwa)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Apa fakta di lapangan #serangan Erbil #kekalahan Iran 2026 #selat hormuz #Trump tunda serangan Iran #Dampak bagi Indonesia #Pete Hegseth Iran #Apa kata Hegseth tentang Iran