RADAR MALIOBORO – TNI Angkatan Laut (TNI AL) semakin dekat untuk mengoperasikan kapal induk pertama dalam sejarah Indonesia.
Kapal induk ringan eks Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi (C 551), diproyeksikan tiba di Tanah Air sebelum peringatan HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia pada 5 Oktober 2026.
Menurut Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali, proses akuisisi masih berlangsung melalui negosiasi dengan galangan kapal Fincantieri dan pihak Angkatan Laut Italia.
“Untuk Garibaldi, masih dalam proses. Harapannya bisa sampai di Indonesia sebelum HUT TNI,” ujarnya dalam keterangan resmi baru-baru ini.
Kementerian Pertahanan RI menegaskan bahwa Giuseppe Garibaldi diperoleh melalui skema hibah dari Pemerintah Italia.
Anggaran yang disiapkan pemerintah Indonesia, termasuk pinjaman luar negeri senilai sekitar US$450 juta (sekitar Rp7,45 triliun), dialokasikan khusus untuk retrofit atau penyesuaian kapal agar sesuai kebutuhan operasional TNI AL, termasuk modernisasi sistem, dukungan helikopter, dan potensi pengoperasian drone tempur seperti Bayraktar TB3 asal Turki.
Kapal yang dibangun pada 1985 dan dipensiunkan Italia pada Oktober 2024 ini memiliki panjang sekitar 180 meter, bobot lebih dari 13.000 ton, serta kecepatan maksimal hingga 30 knot.
Dirancang sebagai platform STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing), Garibaldi mampu mengoperasikan jet tempur ringan seperti AV-8B Harrier (di masa lalu), helikopter multirole, serta UAV modern.
Kapal ini juga dilengkapi sistem pertahanan udara, torpedo, dan radar canggih, menjadikannya aset strategis untuk misi patroli, proyeksi kekuatan, hingga bantuan kemanusiaan di wilayah kepulauan Indonesia yang luas.
Langkah ini menandai lompatan besar dalam modernisasi maritim Indonesia, terutama di tengah dinamika keamanan Indo-Pasifik dan kebutuhan menjaga kedaulatan maritim di Laut Natuna Utara serta jalur perdagangan strategis.
Jika terealisasi, Indonesia akan menjadi negara Asia kelima yang mengoperasikan kapal induk setelah China, India, Jepang, dan Thailand (dengan kapal helikopter).
Persiapan kru dan infrastruktur pendukung sudah dimulai, sementara proses retrofit diharapkan melibatkan transfer teknologi dan partisipasi industri galangan kapal nasional.
Meski mendapat sorotan sebagai aset berusia 40 tahun, banyak analis menilai nilai strategisnya tetap tinggi dengan upgrade yang tepat, terutama untuk operasi helikopter dan drone di era peperangan modern.
Pemerintah terus memantau proses ini agar sesuai target waktu dan anggaran.
Kehadiran kapal induk pertama ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan maritim utama di kawasan Asia Tenggara. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin