Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Duka Mendalam, Tiga Prajurit TNI Pasukan Perdamaian Indonesia Gugur di Lebanon Selatan Akibat Serangan di Tengah Konflik Israel-Hizbullah

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 31 Maret 2026 | 14:43 WIB
Personel TNI yang tergabung dalam misi perdamaian PBB, UNIFIL di Lebanon. Tiga di antaranya gugur karena serangan Israel. (istimewa)
Personel TNI yang tergabung dalam misi perdamaian PBB, UNIFIL di Lebanon. Tiga di antaranya gugur karena serangan Israel. (istimewa)

Jakarta – Kabar duka datang dari Lebanon. Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam misi UNIFIL tewas dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.

Insiden pertama terjadi pada Minggu malam hingga Senin dini hari (29-30 Maret 2026), ketika sebuah proyektil meledak di posisi kontingen Indonesia dekat desa Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan. Satu prajurit TNI gugur, sementara tiga lainnya mengalami luka-luka akibat tembakan artileri tidak langsung. 

Kemudian, pada Senin (30 Maret 2026), dua prajurit TNI lainnya tewas ketika ledakan dari asal tidak diketahui menghancurkan kendaraan konvoi logistik UNIFIL mereka di dekat Bani Hayyan. Dua personel lain juga terluka dalam ledakan tersebut. 

Kepala Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, mengonfirmasi ketiga korban berkebangsaan Indonesia. PBB secara tegas mengutuk serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dan menyerukan penyelidikan menyeluruh atas asal-usul proyektil tersebut.

Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya para pahlawan perdamaian. Pemerintah Indonesia menuntut penyelidikan transparan dan menekankan bahwa serangan terhadap pasukan UNIFIL merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.

Baca Juga: Komdigi Panggil Meta dan Google: Tak Patuh Aturan Lindungi Anak di Ruang Digital, X dan Bigo Live Dapat Apresiasi

"Pasukan perdamaian PBB harus dilindungi dan bukan menjadi target di tengah konflik," tegas pernyataan Kemlu RI.

Indonesia telah menjadi kontributor utama pasukan UNIFIL di Lebanon sejak lama, dengan ratusan prajurit TNI dikerahkan untuk menjaga stabilitas di perbatasan Lebanon-Israel.

Meninggalnya ketiga prajurit TNI ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon selatan. Akhir pekan lalu, serangan Israel juga menewaskan jurnalis dan petugas medis Lebanon, menambah ketegangan di kawasan tersebut.

UNIFIL, yang didirikan sejak 1978, bertugas memantau gencatan senjata dan melindungi warga sipil. Namun, sejak invasi darat Israel diperluas, risiko terhadap pasukan penjaga perdamaian semakin tinggi.

Baca Juga: Kemenkraf Tanggapi Heboh Kasus Videografer Amsal Sitepu: Hormati Proses Hukum, Lindungi Ekosistem Kreatif Indonesia

Pihak Israel menyatakan sedang melakukan penyelidikan internal terkait insiden ini, sementara UNIFIL terus memantau situasi keamanan bagi ribuan personelnya yang tersebar di Lebanon selatan.

Gugurnya tiga prajurit TNI ini menjadi pengingat bagi bangsa Indonesia akan risiko tinggi yang dihadapi para peacekeeper dalam menjaga perdamaian dunia. Ribuan prajurit Garuda telah bertugas di berbagai misi PBB, dari Lebanon hingga Kongo dan Sudan.

Pemerintah RI bersama keluarga korban kini fokus pada pemulangan jenazah dan perawatan bagi yang terluka. Dukungan moril dari seluruh masyarakat Indonesia mengalir deras, dengan banyak pihak menyerukan agar keselamatan pasukan perdamaian menjadi prioritas utama PBB. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#prajurit TNI tewas Lebanon #UNIFIL Indonesia gugur 2026 #tiga peacekeeper Indonesia tewas #serangan Lebanon TNI #konflik Israel Hizbullah UNIFIL